
KEDIRI, Tandaglobal.news — Klaim Badan Pusat Statistik (BPS) pusat yang menyebut kenaikan harga beras di pasaran disebabkan tingginya ongkos di tingkat penggilingan mendapat tanggapan dari pelaku usaha. CV Jodo, salah satu pabrik penggilingan beras skala besar di Kabupaten Kediri yang memproduksi Beras Mentari, menyebut lonjakan harga lebih dipicu kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku gabah akibat kemarau panjang.
Manajer Produksi CV Jodo, Adam Hidafi Yusuf, menepis anggapan bahwa pihak penggilingan memiliki kendali penuh untuk menaikkan harga beras secara sepihak.
Ia menegaskan, industri penggilingan tetap mematuhi aturan Harga Eceran Tertinggi (HET) dari pemerintah pusat, yakni Rp14.900 per kilogram untuk beras premium di wilayah Jawa.
“Penggilingan kan tidak semata-mata menaikkan harga beras seenaknya. Pasti ada faktornya, dan yang paling besar itu dari bahan. Harga jual kita sekarang Rp14.800, di bawah HET. Itu pun bos saya bilang hanya untuk mempertahankan brand, padahal mungkin kondisinya sudah berdarah-darah untuk menutupi biaya operasional,” ungkap Adam saat dikonfirmasi.
Menurut Adam, akar persoalan berada di sektor hulu, yakni menurunnya suplai gabah dari petani.
Secara geografis, Kabupaten Kediri bukanlah lumbung padi utama karena kontur alamnya, sehingga pasokan bahan baku sangat bergantung pada daerah lumbung padi di Jawa Timur bagian timur maupun kawasan utara.
Namun, dampak musim kemarau membuat suplai tersebut nyaris terhenti.
“Bisa dilihat sendiri di sini kosong, tidak ada truk yang bongkar muat. Itu artinya kita memang tidak dapat suplai bahan. Ini sudah sekitar satu bulanan benar-benar kosong,” tambahnya.
Kondisi pasokan bahan baku di pabrik penggilingan tersebut kini berada pada tahap yang sangat kritis.
Dengan kapasitas mesin terpasang mencapai 20 ton per jam, operasional pabrik saat ini hanya mengandalkan sisa stok gabah yang ada di gudang.
Jika pasokan gabah dengan harga rasional tidak kunjung tersedia, pihak pabrik bersiap mengambil langkah terberat.
“Produksi kita itu paling bertahan dua minggu, maksimal tiga minggu. Setelah itu stok habis. Kalau memang tidak ada bahan, apa yang mau dibuat? Bagi saya simpel, ya pekerjanya terpaksa saya pulangkan semua,” tegas pria yang bertanggung jawab di bagian produksi tersebut.
Sebagai pelaku industri, Adam menyoroti kebijakan stabilisasi harga pangan dari pemerintah yang dinilainya setengah hati dan hanya membebani pihak swasta.
Ia mengibaratkan posisi pengusaha penggilingan beras saat ini seperti isi roti lapis yang terjepit dari dua sisi.
“Kita ini seperti sandwich yang kena injak. Di bawah harga bahan (gabah) dari petani tidak dikontrol dan dibiarkan naik tak terbatas, tapi harga jual di atas dibatasi oleh HET. Artinya apa? Harus diimbangi. Kalau harga di bawah tidak dikontrol, ya harga di atasnya juga harusnya disesuaikan sehingga ada keseimbangan,” pungkas Adam.
Pelaku usaha berharap pemerintah segera menemukan jalan keluar yang nyata, tidak sekadar menekan harga di hilir, tetapi juga mampu mengurai persoalan kelangkaan bahan baku gabah yang disebut menjadi pemicu utama di tingkat hulu.



















Tinggalkan Balasan