SIMALUNGUN, Tandaglobal.news Sejarah Pabrik Teh Bah Butong tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perkebunan teh di kawasan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Berawal dari pembukaan perkebunan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Bah Butong kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan teh hitam yang masih bertahan hingga kini.

Perkebunan Bah Butong mulai dibuka pada 1917 oleh Nederland Handel Maatschappij (NHM), perusahaan perdagangan dan perkebunan Belanda yang saat itu mengembangkan berbagai komoditas perkebunan di wilayah Hindia Belanda. Kawasan Sidamanik dinilai sesuai untuk tanaman teh karena berada di dataran tinggi dengan kondisi agroklimat yang mendukung.

Keberadaan perkebunan tersebut kemudian diikuti pembangunan fasilitas pengolahan. Pabrik pertama di Bah Butong didirikan pada 1927 dan mulai beroperasi pada 1931. Kehadiran pabrik membuat kegiatan perkebunan tidak hanya menghasilkan pucuk teh, tetapi juga memungkinkan hasil panen diolah menjadi teh untuk dipasarkan.

Bah Butong menjadi bagian dari perkembangan kawasan perkebunan teh Simalungun yang pada masa kolonial diarahkan sebagai salah satu sentra produksi komoditas perkebunan. Teh dari kawasan tersebut kemudian menjadi bagian dari perdagangan perkebunan yang berorientasi pada pasar lebih luas.

Perjalanan Bah Butong memasuki babak baru setelah Indonesia merdeka. Pada 1957, pemerintah Indonesia mengambil alih sejumlah perusahaan perkebunan asing melalui proses nasionalisasi. Kebijakan tersebut turut mengubah struktur pengelolaan perkebunan yang sebelumnya berada di bawah perusahaan asing.

Dalam perkembangan kelembagaan perkebunan negara, pengelolaan perkebunan teh di Sumatera Utara kemudian mengalami sejumlah perubahan. Pada 1963, perkebunan teh Sumatera Utara dialihkan ke Perusahaan Aneka Tanaman IV (ANTAN-IV). Pada 1968, kelembagaan tersebut berubah menjadi Perusahaan Negara Perkebunan VIII (PNP VIII).

Selanjutnya, pada 1974 terjadi perubahan menjadi PT Perkebunan VIII. Perubahan tersebut merupakan bagian dari penataan perusahaan perkebunan negara menjadi badan usaha berbentuk persero.

Restrukturisasi kembali terjadi pada 1996. PTP VI, PTP VII, dan PTP VIII dilebur menjadi PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV). Sejak saat itu, Bah Butong menjadi bagian dari jaringan unit usaha PTPN IV yang mengelola komoditas perkebunan, termasuk teh di kawasan Simalungun.

Perkembangan teknologi pengolahan kemudian membawa perubahan besar pada fasilitas produksi Bah Butong. Pada periode 1998 hingga 2000 dibangun pabrik baru yang lebih besar dan modern. Pabrik tersebut kemudian diresmikan pada 20 Januari 2001. Pembangunan itu menandai upaya modernisasi fasilitas pengolahan teh Bah Butong setelah beroperasi selama puluhan tahun.

Dalam perkembangannya, Bah Butong tidak berdiri sendiri. Kebun Sidamanik dan Tobasari juga menjadi bagian dari kawasan perkebunan teh PTPN IV di Simalungun. Ketiga unit tersebut berada di kawasan dengan ketinggian sekitar 800 hingga 1.100 meter di atas permukaan laut, kondisi yang mendukung budidaya tanaman teh.

Pada awal 2010-an, pengelolaan pengolahan teh kembali mengalami penataan. Mulai Januari 2012, Pabrik Bah Butong mendapat kebijakan untuk mengolah pucuk teh segar yang berasal dari kebun Bah Butong, Sidamanik, dan Tobasari. Kebijakan tersebut membuat Bah Butong memiliki peran penting sebagai fasilitas pengolahan produksi teh dari beberapa kebun di kawasan tersebut.

Namun, kapasitas produksi pucuk teh dari ketiga kebun kemudian meningkat hingga melebihi kemampuan pengolahan Bah Butong. Kondisi tersebut mendorong pengoperasian kembali Pabrik Tobasari pada 1 Juli 2015 untuk mengolah pucuk teh dari Tobasari dan sebagian produksi Sidamanik. Pada tahun yang sama, Unit Usaha Sidamanik, Bah Butong, dan Tobasari juga digabungkan dalam satu pengelolaan Unit Usaha Teh.

Bah Butong kini menjadi salah satu pabrik pengolahan teh PTPN IV. Dalam laporan tahunan 2024, PTPN IV menyebut perusahaan memiliki empat pabrik pengolahan teh, yakni Bah Butong, Tobasari, Danau Kembar, dan Kayu Aro, dengan produk teh yang ditujukan untuk pasar domestik maupun ekspor.

Dengan perjalanan lebih dari satu abad sejak pembukaan perkebunannya pada 1917 dan hampir satu abad sejak pabrik pertamanya berdiri pada 1927, Bah Butong menjadi salah satu jejak panjang sejarah industri teh Sumatera Utara. Dari perkebunan era kolonial, nasionalisasi, perubahan perusahaan perkebunan negara, hingga modernisasi fasilitas produksi, Bah Butong tetap menjadi bagian penting dari mata rantai industri teh di Simalungun.