SIMALUNGUN, TandaGlobal.news — Pabrik Teh Tobasari memiliki perjalanan sejarah yang berbeda dibandingkan Bah Butong dan Sidamanik. Jika kedua pabrik tersebut telah berkembang sejak masa kolonial, Tobasari merupakan fasilitas pengolahan yang dibangun setelah Indonesia merdeka. Meski demikian, asal-usul perkebunan Tobasari tetap berkaitan erat dengan sejarah panjang perkebunan teh di kawasan Sidamanik.
Pada awalnya, Kebun Tobasari merupakan bagian dari Kebun Sidamanik yang sebelumnya dikembangkan oleh Handels Vereeniging Amsterdam (HVA), perusahaan Belanda yang bergerak di bidang perkebunan dan perdagangan. Karena itu, sejarah Tobasari tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kawasan perkebunan Sidamanik sejak masa kolonial.
Setelah Indonesia merdeka, perkebunan yang sebelumnya dikelola perusahaan asing masuk dalam proses nasionalisasi. Pada 1957, pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaan perusahaan perkebunan asing. Kebun Tobasari kemudian mengikuti sejumlah perubahan kelembagaan perusahaan perkebunan negara di Sumatera Utara.
Dalam catatan sejarah pengelolaannya, kawasan tersebut berada di bawah PPN Sumut III. Pada 1961, terjadi perubahan organisasi menjadi PPN Aneka Tanaman, kemudian pada 1968 masuk dalam PNP VIII dan pada 1974 berubah menjadi PT Perkebunan VIII.
Berbeda dengan Pabrik Sidamanik dan Pabrik Bah Butong yang telah dibangun pada masa kolonial, Pabrik Teh Tobasari baru dibangun pada akhir 1970-an. Pembangunan pabrik dimulai pada 27 Mei 1978 dan diselesaikan pada akhir tahun yang sama.
Pabrik tersebut mulai beroperasi pada Januari 1979 dan kemudian diresmikan pada 15 Mei 1979. Areal tanaman yang mendukung kegiatan Tobasari berasal dari bekas Kebun Sidamanik, kemudian diperluas melalui penanaman baru sejak 1978. Dalam dokumen perusahaan disebutkan terdapat tambahan areal tanaman baru sekitar 182 hektare.
Pembangunan Tobasari pada akhir 1970-an menunjukkan perkembangan industri teh di Sumatera Utara pada periode tersebut. Fasilitas pengolahan baru diperlukan untuk mendukung produksi pucuk teh dari kawasan perkebunan yang telah berkembang sejak periode sebelumnya.
Perubahan besar kembali terjadi pada 11 Maret 1996. Pemerintah melakukan restrukturisasi perusahaan perkebunan negara dengan melebur PTP VI, PTP VII dan PTP VIII menjadi PT Perkebunan Nusantara IV. Sejak saat itu, Tobasari menjadi bagian dari PTPN IV bersama sejumlah unit perkebunan lainnya.
Tobasari kemudian berkembang sebagai salah satu dari tiga unit kebun teh PTPN IV di kawasan Simalungun bersama Bah Butong dan Sidamanik. Ketiganya berada di kawasan dataran tinggi Kecamatan Sidamanik dan Pamatang Sidamanik yang memiliki kondisi alam sesuai untuk tanaman teh.
Dalam perjalanan operasionalnya, Tobasari sempat mengalami perubahan fungsi. Setelah kebijakan pengolahan pucuk teh dipusatkan di Bah Butong, Pabrik Tobasari tidak selalu beroperasi. Namun, meningkatnya produksi pucuk teh dari Sidamanik, Bah Butong dan Tobasari membuat kapasitas Bah Butong tidak lagi mencukupi.
Kondisi tersebut mendorong Pabrik Tobasari dibuka kembali pada 1 Juli 2015. Pabrik kembali digunakan untuk mengolah pucuk teh segar produksi Tobasari serta sebagian produksi dari Sidamanik. Pada periode yang sama, ketiga unit usaha teh tersebut juga digabungkan dalam satu pengelolaan.
Dalam perkembangan terbaru yang tercatat dalam laporan perusahaan, Tobasari masih menjadi salah satu fasilitas pengolahan teh PTPN IV. Laporan tahunan 2024 mencatat PTPN IV memiliki pabrik pengolahan teh Bah Butong, Tobasari, Danau Kembar dan Kayu Aro. Produk teh perusahaan dipasarkan untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.
Data produksi juga menunjukkan bahwa Tobasari tetap memiliki peran dalam produksi teh. Data PTPN IV yang dikutip dalam penelitian akademik menunjukkan produksi teh Tobasari pada 2023 mencapai sekitar 14,70 juta kilogram, dengan luas areal yang tercatat sekitar 1.018 hektare.
Sejarah Tobasari memperlihatkan bagaimana industri perkebunan teh di Simalungun terus beradaptasi. Berawal sebagai bagian dari kawasan perkebunan Sidamanik pada masa kolonial, Tobasari kemudian memperoleh pabrik sendiri pada 1978, masuk ke dalam PTPN IV pada 1996, dan kembali diperkuat sebagai fasilitas pengolahan ketika kebutuhan kapasitas produksi meningkat.
Karena itu, Tobasari bukan sekadar pabrik teh yang dibangun pada era setelah kemerdekaan. Keberadaannya merupakan bagian dari kesinambungan sejarah perkebunan teh Simalungun yang telah berlangsung sejak masa kolonial hingga perkembangan industri perkebunan modern.




















Tinggalkan Balasan