Parade Cikar Kabupaten Kediri diikuti 43 peserta dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus melestarikan transportasi tradisional dan budaya lokal. Sabtu, (22/08/26). (Dok. TGN/Maulana Rahmadha)

KEDIRI, Tandaglobal.news Keberhasilan kembali diraih Yudiono dalam ajang Parade Cikar Kabupaten Kediri yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, Sabtu (22/8/2026).

Peserta asal Desa Kunjang tersebut berhasil mempertahankan gelar Juara 1 untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Yudiono, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar, mengaku sangat senang dan bersyukur atas pencapaian tersebut.

Menurutnya, kemenangan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang selama ini ikut memberikan ruang bagi komunitas pelestari cikar di Kabupaten Kediri.

“Tentunya kami sangat senang dan bersyukur bisa kembali mendapatkan Juara 1. Ini merupakan kemenangan yang kedua kalinya secara berturut-turut. Terima kasih kepada Mas Bup, Forkopimda, DKPP, dan semua pihak yang sudah memfasilitasi kegiatan serta komunitas cikar,” ujar Yudiono.

Dalam Parade Cikar tahun ini, Yudiono bersama tim mengusung nuansa HUT ke-81 Republik Indonesia.

Cikar dihias menggunakan berbagai hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menampilkan potensi pertanian masyarakat.

Meski dihias dengan berbagai ornamen, bentuk dan ciri khas tradisional cikar tetap dipertahankan.

Persiapan dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan parade dan dikerjakan secara santai bersama tim.

“Persiapannya tidak terlalu lama, hanya beberapa hari. Kami menggunakan berbagai hasil bumi untuk hiasan sebagai bentuk rasa syukur, tetapi tetap mempertahankan ciri khas dan motif cikar yang menjadi identitasnya,” jelasnya.

Agar tampil lebih menarik, cikar juga mendapatkan perawatan khusus.

Saat tidak digunakan, kendaraan tradisional tersebut ditutup menggunakan terpal untuk menghindari debu.

Menjelang parade, bagian-bagian cikar kembali dicat sehingga tampil lebih bersih dan mencolok.

Tidak hanya cikar yang dipersiapkan, kondisi sapi penarik juga menjadi perhatian utama.

Dalam parade tersebut, Yudiono menggunakan sapi Peranakan Ongole (PO) yang menurutnya kini keberadaannya mulai semakin berkurang.