Sapi yang digunakan untuk menarik cikar harus memiliki kemampuan dan latihan khusus.
Selain terbiasa menarik gerobak, sapi juga harus mampu menghadapi kondisi jalan raya yang ramai.
Menurut Yudiono, sapi yang belum terbiasa berada di tengah lalu lintas berisiko mudah terkejut sehingga dapat menyulitkan pengendalian selama perjalanan.
“Sapinya harus benar-benar terlatih. Biasanya sudah terbiasa menarik gerobak dan membawa material seperti pasir atau batu. Kalau sudah terbiasa di jalan raya, sapi tidak mudah kaget ketika ada kendaraan,” katanya.
Untuk menjaga kondisi ternak, perawatan dilakukan secara rutin melalui pemberian pakan hijauan dan comboran.
Sementara vitamin diberikan sebagai tambahan, terutama ketika kondisi kesehatan sapi membutuhkan perhatian lebih.
Yudiono berharap keberadaan komunitas cikar terus mendapatkan dukungan dan pendampingan dari pemerintah.
Menurutnya, Parade Cikar tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus digelar secara rutin setiap tahun sehingga generasi muda tetap mengenal keberadaan cikar dan tradisi yang menyertainya.
“Harapan kami, pemerintah terus memberikan fasilitasi dan pendampingan kepada komunitas cikar. Semoga Parade Cikar bisa menjadi agenda rutin setiap tahun agar budaya peninggalan leluhur ini tetap lestari dan terus dikenal generasi berikutnya,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan