Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana memasangkan kendit kepada anggota Paskibraka dalam prosesi pengukuhan. (Dok. TGN/Wildan Wahid Hasyim)

KEDIRI, Tandaglobal.news Bagi sebagian orang, kendit mungkin hanya terlihat seperti pita atau sabuk yang dikenakan saat pengukuhan. Padahal, benda tersebut memiliki sejarah dan makna yang cukup panjang dalam tradisi pendidikan kepemudaan dan Paskibraka.

Di balik warna, motif, hingga cara pemakaiannya terdapat pesan tentang kesetiaan, karakter, Pancasila, dan tanggung jawab seorang pemuda.

Pengukuhan yang Sarat Makna

Upacara Pengesahan Paskibraka Kabupaten Kediri menjelang HUT RI Ke-81. (Dok. TGN/Wildan Wahid Hasyim)

Pengukuhan menjadi penanda berakhirnya suatu jenjang Latihan Kepemimpinan Pemuda atau Kepemudaan.

Dalam tradisi tersebut, peserta mengucapkan “Ikrar Putera Indonesia” sambil memegang Sang Merah Putih dan kemudian menciumnya dengan menarik napas panjang.

Prosesi itu dimaknai sebagai kiasan kesediaan untuk senantiasa setia kepada Indonesia dan membelanya.

Kendit kemudian menjadi salah satu tanda yang melekat dalam prosesi tersebut. Bentuknya berupa pita atau sabuk berbahan kain yang dikenakan melingkar di pinggang.

Dalam pemaknaan tradisional, kendit dikaitkan dengan tanda ksatria yang dahulu menjadi simbol kesetiaan kepada kerajaan.

Dalam konteks kepemudaan, makna tersebut berkembang menjadi harapan agar pemegang kendit memiliki sikap ksatria dalam pemikiran, perkataan, dan perbuatan.