Dari Kendit Polos Menjadi Bermotif

Kendit ternyata mengalami perubahan desain. Pada latihan Pasukan I hingga IV sekitar 1968–1971, kendit masih dibuat polos dengan dua warna.

Hijau digunakan untuk anggota pasukan, sedangkan ungu digunakan untuk penatar atau pembina.

Desain polos tersebut kemudian dianggap terlalu menyerupai sabuk kecakapan olahraga bela diri.

Idik Sulaeman kemudian menyempurnakannya menjadi kendit bermotif.

Motif yang digunakan berupa rangkaian mata rantai berbentuk bulat dan belah ketupat.

Pada motif tersebut terdapat susunan huruf yang membentuk kalimat “PANDU IBU INDONESIA BER-PANCASILA”.

Rangkaian tersebut bukan sekadar ornamen, tetapi menjadi bagian dari pesan ideologis yang melekat pada tanda pengukuhan.

Menariknya, jumlah mata rantai dalam desain tersebut juga memiliki makna.

Terdapat 17 mata rantai berbentuk bulat dan 17 mata rantai berbentuk belah ketupat.

Rancangan awal kendit memiliki ukuran 5 cm dan 17 cm sebagai simbol angka 5 dan 17.

Dalam perkembangannya, ukuran kendit bermotif kemudian disesuaikan menjadi lebar 5 cm dan panjang 140 cm karena pertimbangan teknis pencetakan.

Angka 17 mengingatkan pada tanggal 17 Agustus 1945, sedangkan angka 5 merujuk pada lima sila Pancasila.

Enam Warna dalam Jenjang Kepemudaan

Dalam tradisi tanda pengukuhan kepemudaan, warna juga menjadi penanda jenjang latihan. Warna dasar kendit mengikuti tingkatan yang bersangkutan.

  • Hijau digunakan untuk Latihan Perintis/Pemula Pemuda.
  • Merah untuk Latihan Pemuka Pemuda.
  • Cokelat untuk Latihan Penuntun Pemuda.
  • Kuning untuk Latihan Pendamping Pemuda.
  • Ungu untuk Latihan Penatar Kepemudaan.
  • Abu-abu untuk Latihan Penaya Kepemudaan.

Dengan demikian, enam warna tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sistem jenjang latihan kepemudaan. Tidak berarti seluruh warna tersebut digunakan oleh seorang anggota Paskibraka dalam satu masa pengukuhan.