Tandaglobal.news | Madiun — Blotong yang selama ini dikenal sebagai limbah pemurnian nira tebu ternyata pernah memiliki peran unik dalam industri kosmetik Eropa pada masa kolonial.
Blotong merupakan lumpur hasil pemurnian nira yang mengandung tanah halus, serat mikro, endapan garam, serta lilin tebu yang dipisahkan agar proses kristalisasi gula berjalan baik.
Di balik bentuknya yang menyerupai lumpur buangan, blotong menyimpan kandungan lilin tebu alami yang kemudian dikembangkan menjadi bahan industri bernilai ekonomi.
Lapisan putih seperti bedak pada batang tebu berasal dari lilin alami yang ikut terbawa ke dalam nira saat proses penggilingan.
Lilin tersebut kemudian dipisahkan dan terkumpul dalam blotong karena dianggap dapat mengganggu proses pengolahan gula.
Kandungan lilin dalam blotong memang kecil, hanya sekitar 1–2 persen, tetapi memiliki nilai penting bagi industri tertentu.
Pada dekade 1930-an, tumpukan blotong menjadi persoalan bagi sejumlah administrateur pabrik gula karena menimbulkan bau dan membutuhkan penanganan.
Perubahan terjadi ketika Ir. J. van der Linden, administrateur PG Soedhono di Madiun, melihat peluang dari limbah tersebut.
Ia kemudian mengembangkan gagasan untuk mengekstrak lilin dari blotong sebagai alternatif bahan impor.
“Kenapa dibuang? Ekstrak saja lilinnya! Murah, lokal, bisa ganti carnauba impor!”
Gagasan tersebut terinspirasi dari paten Prancis milik A. Wynberg pada 1909.
Sekitar 1935 hingga 1936, Van der Linden membangun instalasi ekstraksi wax berskala industri untuk mengolah blotong menjadi produk bernilai tambah.
Hasil pengolahan tersebut dikenal sebagai blotongwas atau Java Cane Wax.
Produk itu berupa lilin keras berwarna kuning kecokelatan dengan aroma manis khas tebu.
Blotongwas kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan lipstik, semir sepatu, hingga pengkilap lantai.
Dalam jurnal De Suikerbond tahun 1936, Van der Linden disebut sebagai “de vader van de blotongwas” atau bapaknya wax blotong.
Pada masa tersebut, Jawa sempat menjadi salah satu pusat produksi wax blotong yang diekspor ke Belanda, Jerman, Inggris, dan Perancis.
Industri blotongwas kemudian berkembang di sejumlah lokasi, termasuk PG Soedhono, NV Java Wachs Maatschappij dekat PG Sindanglaut, PG Tjoekir, dan Pesantren Baru.
Menjelang akhir 1930-an, perusahaan kosmetik Belanda mulai memanfaatkan blotongwas karena harga beeswax dan carnauba semakin meningkat.
Pada 1939, muncul iklan dengan kalimat, “Lippenrood van Java – geurend naar rietsuiker, goedkooper dan toch even mooi!”
Iklan tersebut menggambarkan lipstik merah dari Jawa yang disebut memiliki aroma gula tebu dan harga lebih murah dengan kualitas tetap menarik.
Pemanfaatan blotongwas membuat limbah industri gula Jawa memiliki perjalanan yang tidak biasa dalam sejarah kolonial.
Produk yang berasal dari sisa pengolahan tebu itu sempat digunakan untuk mempercantik penampilan masyarakat Eropa di Hindia Belanda.
Namun, perkembangan tersebut terhenti setelah Jepang masuk pada 1942 dan menyebabkan industri wax berhenti beroperasi.
Setelah masa perang, carnauba dan petroleum wax kembali mendominasi pasar karena lebih murah serta lebih mudah diproduksi.
Blotong pun kembali digunakan sebagai bahan kompos untuk kebutuhan perkebunan.
Van der Linden kemudian kembali ke Belanda setelah berakhirnya masa kolonial.
Kisah blotongwas menjadi catatan bahwa limbah industri gula pernah mengalami perjalanan panjang, dari sisa pemurnian nira hingga menjadi bahan kosmetik yang dikenal di pasar Eropa.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan