Tandaglobal.news | Brebes — Bangunan Locomotief Remise Jatibarang di kawasan bekas Pabrik Gula Jatibarang, Kabupaten Brebes, kembali menjadi perhatian setelah kisah sejarahnya dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).

Bangunan yang berdiri sejak 1916 tersebut menjadi salah satu saksi perkembangan industri gula dan transportasi kereta uap pada masa kolonial Belanda.

Remise Jatibarang dibangun sekitar 74 tahun setelah Pabrik Gula Jatibarang didirikan pada 1842.

Bangunan itu berfungsi untuk mendukung operasional pengangkutan tebu dari lahan perkebunan menuju pabrik menggunakan lokomotif uap atau loko lori yang menjadi sarana utama distribusi bahan baku.

Remise tersebut memiliki bentuk setengah lingkaran yang menghadap ke timur dengan sembilan pintu besar berlengkung khas arsitektur kolonial Belanda.

Desain bangunan itu memungkinkan sejumlah lokomotif keluar dan masuk secara bersamaan menuju jalur rel yang terhubung dengan jaringan lori di kawasan perkebunan.

“Remise ini dibangun sebagai garasi sekaligus bengkel perawatan lokomotif uap yang mengangkut tebu menuju Pabrik Gula Jatibarang,” demikian dijelaskan dalam narasi yang beredar.

Pada bagian depan bangunan terdapat turntable atau meja putar yang digunakan untuk mengubah arah lokomotif tanpa harus melewati lintasan yang panjang.

Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam sistem operasional transportasi tebu pada awal abad ke-20.

Jaringan rel lori dari Remise Jatibarang disebut terhubung dengan berbagai kebun tebu di sekitar Brebes hingga wilayah Tegal.

Kondisi tersebut menjadikan kawasan Jatibarang sebagai salah satu simpul penting distribusi bahan baku industri gula di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa.

“Keberadaan meja putar menjadi salah satu teknologi penting yang mendukung efisiensi pergerakan lokomotif pada masa industri gula masih berjaya,” sebagaimana disampaikan dalam narasi tersebut.

Selain memiliki nilai sejarah, bangunan ini juga dikenal karena ukuran dan bentuk arsitekturnya yang tidak lazim.

Dalam narasi yang beredar disebutkan bahwa Remise Jatibarang merupakan salah satu bangunan remise lokomotif berbentuk setengah lingkaran yang masih utuh di Indonesia.

Bangunan tersebut hingga kini masih mempertahankan dinding bata ekspos, pintu-pintu berukuran besar, serta tata ruang yang menggambarkan sistem kerja industri gula pada masa kolonial.

Meski lokomotif uap tidak lagi beroperasi di lokasi tersebut, bentuk asli bangunan masih dapat dikenali dengan baik.

“Remise Jatibarang menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan bagaimana teknologi perkeretaapian mendukung perkembangan industri gula di Jawa pada awal abad ke-20,” demikian isi narasi yang dibagikan.

Keberadaan Remise Jatibarang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah transportasi, tetapi juga mencerminkan pentingnya jaringan rel lori dalam mendukung industri gula pada masa kolonial.

Bangunan ini kini menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi oleh peneliti, pegiat sejarah, dan pecinta perkeretaapian untuk mempelajari jejak perkembangan teknologi industri di Indonesia.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.