Tandaglobal.news | Mojokerto — Blotong dan abu ketel yang kini kerap dipandang sebagai limbah pabrik gula ternyata pernah menjadi bagian penting dalam menjaga kesuburan lahan tebu dan mendukung keberlanjutan industri gula pada masa kolonial Belanda.

Pada awal abad ke-20, pabrik-pabrik gula di Hindia Belanda mulai menghadapi persoalan penumpukan limbah hasil pengolahan tebu.

Blotong merupakan endapan hasil pemurnian nira tebu yang masih mengandung bahan organik dan unsur hara.

Sementara itu, abu ketel berasal dari sisa pembakaran ampas tebu atau bahan bakar lain yang digunakan untuk menghasilkan uap penggerak mesin pabrik.

Kedua material tersebut sempat dianggap sebagai masalah karena menumpuk di area pabrik dan mengganggu lingkungan sekitar.

Salah satu peristiwa penting terjadi di Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto, pada 1915.

Saat itu, tumpukan blotong dan abu ketel memicu keluhan masyarakat karena pembuangannya ke lahan pertanian dapat merusak tanaman.

Melihat persoalan tersebut, seorang insinyur muda bernama Gerrit Hummel mencari cara agar limbah itu dapat dimanfaatkan kembali.

Ia kemudian mencampurkan blotong, abu ketel, kapur, dan kotoran hewan sebagai bahan dasar pembuatan kompos.

Campuran tersebut dikeringkan dan difermentasi selama beberapa minggu hingga berubah menjadi pupuk organik yang siap diaplikasikan ke lahan tebu.

Hasil percobaan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Tanaman tebu tumbuh lebih baik dengan batang yang lebih besar.

Produktivitas kebun meningkat seiring membaiknya kondisi tanah.

Rendemen gula juga mengalami peningkatan setelah kompos diterapkan secara lebih luas.

Keberhasilan itu kemudian melahirkan produk Kompos Super Gempolkrep.

Produk tersebut dipasarkan kepada para petani dengan harga yang relatif terjangkau.

Pabrik juga mengembangkan mesin granulator bertenaga uap untuk mempercepat produksi kompos dalam skala besar.

Inovasi tersebut mengubah limbah yang semula tidak bernilai menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung produktivitas perkebunan.

Namun, perubahan sistem pengelolaan lahan tebu secara bertahap mengurangi penggunaan kompos organik.

Banyak lahan kini dikelola melalui sistem sewa jangka pendek sehingga petani cenderung memilih pupuk kimia yang memberikan hasil lebih cepat.

Kondisi tersebut membuat penggunaan blotong dan abu ketel sebagai pupuk organik semakin berkurang.

Akibatnya, kandungan bahan organik di banyak lahan tebu terus menurun.

Tanah menjadi lebih keras sehingga kemampuan menyimpan air dan unsur hara ikut berkurang.

Produktivitas tanaman pun mulai mengalami penurunan di sejumlah wilayah.

Padahal, blotong dan abu ketel masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pupuk organik apabila dikelola secara tepat.

Selain membantu mengurangi limbah industri, pemanfaatan kedua material tersebut juga dapat mendukung perbaikan kualitas tanah dalam jangka panjang.

Kisah Pabrik Gula Gempolkrep menjadi bukti bahwa inovasi mampu mengubah limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi industri dan pertanian.

Pengalaman tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan industri gula tidak hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan tanah sebagai fondasi utama produksi tebu.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.