Tandaglobal.news | Cirebon — Kisah berlatar masa kolonial Belanda yang dikaitkan dengan Pabrik Gula (Suikerfabriek) Sindanglaut kembali menjadi perhatian setelah beredar di media sosial pada Rabu (22/07/2026).
Cerita tersebut mengangkat sisi lain kehidupan di kawasan pabrik gula yang berdiri di Sindanglaut, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19.
Pabrik Gula Sindanglaut didirikan pada tahun 1872 oleh Benjamin Feist.
Pada masa awal operasionalnya, pabrik tersebut dikenal dengan nama Suikerfabriek Tjirebon atau Singdanglaoet.
Setelah menjalin kerja sama dengan Nederlandsch Indische Landbouw Maatschappij pada 1891, pabrik berkembang menjadi salah satu industri gula terbesar di Asia.
Perkembangan itu didukung oleh penggunaan mesin uap, jalur rel pengangkut tebu, serta fasilitas produksi modern pada masa tersebut.
Di balik aktivitas produksi yang berlangsung siang dan malam, beredar sebuah cerita mengenai kehidupan seorang perempuan Belanda bernama Adriana Van der Veer yang tinggal di rumah dinas dekat kawasan pabrik.
Adriana disebut sebagai pendamping Hendrik Marinus Van Acker, seorang pejabat perusahaan gula yang lebih banyak bertugas di Batavia dan hanya sesekali datang ke Sindanglaut.
Karena Van Acker jarang berada di Sindanglaut, Adriana dikisahkan sering menghabiskan waktu seorang diri di rumah dinas.
Dalam kondisi tersebut, ia kemudian disebut mulai mengenal Eduard Kramer, seorang teknisi muda asal Belanda yang bertugas menangani perawatan fasilitas pabrik.
“Percakapan singkat mereka disebut berkembang menjadi hubungan yang semakin dekat setelah beberapa kali bertemu saat Eduard melakukan pekerjaan teknis di rumah dinas,” sebagaimana diceritakan dalam narasi yang beredar.
Kedekatan keduanya perlahan menjadi pembicaraan di kalangan pekerja pabrik.
Meski tidak pernah diumumkan secara terbuka, kabar mengenai hubungan tersebut disebut mulai menyebar di lingkungan sekitar kawasan industri gula.
Cerita itu kemudian mencapai puncaknya pada suatu malam di tahun 1895 ketika Van Acker datang ke Sindanglaut tanpa pemberitahuan.
Tidak lama setelah kejadian tersebut, Eduard Kramer dikabarkan meninggal dunia.
Dalam laporan resmi perusahaan, kematiannya disebut sebagai akibat kecelakaan kerja di ruang mesin uap saat menjalankan pemeriksaan malam.
“Laporan resmi menyebut Eduard meninggal akibat kecelakaan kerja, sementara berbagai cerita yang berkembang di masyarakat memunculkan dugaan lain yang tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi,” tulis narasi tersebut.
Beberapa hari setelah peristiwa itu, Adriana Van der Veer juga dilaporkan meninggal dunia akibat demam tropis.
Pemakamannya disebut berlangsung sederhana tanpa perhatian besar dari publik maupun perusahaan.
Tak lama kemudian, Hendrik Marinus Van Acker dipindahkan dari jabatan operasional ke posisi administratif.
Dalam cerita yang beredar, perpindahan tersebut disebut berkaitan dengan persoalan pribadi, meski tidak pernah dijelaskan secara resmi.
Dua tahun setelahnya, Van Acker dikabarkan mengundurkan diri dan kembali ke Belanda.
“Peristiwa tersebut disebut tidak pernah terungkap secara terbuka sehingga hanya menyisakan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar pabrik,” demikian isi narasi tersebut.
Seiring waktu, masyarakat sekitar mengenal berbagai cerita yang mengaitkan kawasan pabrik dengan sosok perempuan Belanda yang kerap terlihat di sekitar rumah dinas maupun bangunan tua pabrik pada malam hari.
Kisah tersebut kemudian berkembang sebagai bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.
Meski demikian, hingga kini tidak terdapat catatan sejarah resmi yang dapat membuktikan kebenaran kisah tersebut.
Cerita mengenai Adriana Van der Veer, Eduard Kramer, maupun Hendrik Marinus Van Acker lebih dikenal sebagai bagian dari folklore atau cerita tutur yang berkembang di sekitar Pabrik Gula Sindanglaut.
Di sisi lain, keberadaan pabrik itu sendiri tetap menjadi salah satu saksi penting perkembangan industri gula di Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan