Tandaglobal.news | BREBES — Kecelakaan kereta pengangkut gula milik Pabrik Gula Banjaratma pada 10 Juni 1938 menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah industri gula kolonial setelah rangkaian bermuatan penuh keluar dari rel di kawasan Desa Sigentong.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat, 10 Juni 1938, ketika kereta mengangkut gula dan tetes tebu dari Pabrik Gula Banjaratma menuju jalur distribusi.
Saat itu, industri gula di Hindia Belanda masih berupaya bangkit dari dampak krisis ekonomi dunia atau Malaise yang melanda sepanjang dekade 1930-an.
Berbagai langkah penghematan diterapkan oleh pengelola pabrik untuk mempertahankan kegiatan produksi.
Kebijakan tersebut meliputi pengurangan jam kerja hingga efisiensi dalam perawatan mesin dan sarana operasional.
Pada pagi hari, sembilan gerbong bermuatan penuh gula dan tetes tebu diberangkatkan dari Pabrik Gula Banjaratma.
Muatan yang lebih berat dari biasanya menjadi bagian dari pengiriman penting yang diharapkan dapat menopang keberlangsungan operasional pabrik.
Lokomotif dikendalikan oleh Soewardjo, seorang masinis asal Tegal yang telah lama bertugas di jalur tersebut.
Dengan pengalaman yang dimilikinya, Soewardjo menjalankan perjalanan sebagaimana biasanya menuju jalur distribusi.
Ketika melintasi kawasan Desa Sigentong, rangkaian kereta tiba-tiba mengalami guncangan.
Tidak lama kemudian terdengar benturan keras yang diikuti keluarnya sejumlah gerbong dari rel.
Muatan gula dan tetes tebu berserakan di sepanjang lokasi kecelakaan.
Lokomotif juga mengalami guncangan hebat akibat insiden tersebut.
Soewardjo terpental dari kabin lokomotif dan meninggal dunia akibat benturan.
Seorang juru rem mengalami luka pada bagian tumit setelah terjatuh ketika kecelakaan terjadi.
Warga sekitar segera berdatangan ke lokasi untuk memberikan pertolongan.
Karung-karung gula yang pecah dan tetes tebu yang tumpah terlihat memenuhi area di sepanjang jalur rel.
Pemandangan tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan kereta yang tidak pernah mencapai tujuan.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan itu belum pernah diketahui secara pasti.
Sejumlah dugaan mengarah pada kondisi rel yang telah menua.
Dugaan lain menyebut beban angkutan yang terlalu berat turut menjadi faktor penyebab kecelakaan.
Kondisi operasional pabrik yang berada di bawah tekanan akibat krisis ekonomi juga disebut sebagai salah satu kemungkinan yang memengaruhi situasi saat itu.
Tragedi kereta gula Banjaratma kemudian dikenang sebagai salah satu catatan kelam dalam sejarah industri gula di Hindia Belanda.
Peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawa seorang masinis, tetapi juga menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi para pekerja industri gula dan perkeretaapian pada masa kolonial.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan