
KEDIRI, Tandaglobal.news — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi sarana untuk mengukur capaian akademik siswa sekaligus bahan evaluasi pembelajaran di sekolah. Berbagai persiapan dilakukan melalui latihan soal, pendampingan belajar, dan penyediaan perangkat ujian. Namun, pelaksanaan sesi pertama pada Selasa (27/10/2026) terkendala gangguan teknis yang juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah.
Ketua Panitia TKA SMAN 1 Puncu, Gunawan, mengatakan pihak sekolah telah mempersiapkan pelaksanaan ujian sejak jauh hari. Persiapan tersebut meliputi perangkat komputer, jaringan internet, pasokan listrik, serta pengenalan materi dan bentuk soal kepada siswa melalui kegiatan belajar-mengajar (KBM).
Pelaksanaan TKA di SMAN 1 Puncu dibagi menjadi dua sesi karena jumlah komputer belum mencukupi untuk melayani seluruh peserta sekaligus. Sekolah juga menerapkan pengawasan silang dengan melibatkan pengawas dari luar sekolah untuk menjaga ketertiban selama ujian.
“Kami sudah mempersiapkan jauh-jauh hari dan menganalisis kemampuan perangkat yang tersedia. Pelaksanaan dibagi menjadi dua sesi karena komputer belum mencukupi jika seluruh peserta mengikuti tes dalam satu sesi,” ujar Gunawan.
Menurut Gunawan, hasil TKA dapat menjadi bahan refleksi untuk mengetahui capaian siswa sekaligus mengevaluasi metode pembelajaran yang diterapkan sekolah. Hasil tersebut diharapkan membantu sekolah menentukan langkah perbaikan pembelajaran ke depan.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Dharma Wanita 1 Pare, Riris Alit Saputri, menjelaskan bahwa persiapan TKA telah dilakukan sejak siswa duduk di kelas X. Sekolah membiasakan siswa mengerjakan soal dengan pola serupa asesmen kompetensi minimum (AKM), termasuk soal literasi, numerasi, pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan.
Persiapan juga dilakukan melalui pendampingan guru, bimbingan belajar, latihan soal, serta uji coba berkala. Sekolah memanfaatkan buku pembelajaran dan aplikasi belajar untuk membantu siswa berlatih, baik melalui perangkat digital maupun latihan tertulis.
Dari sisi fasilitas, SMA Dharma Wanita 1 Pare memiliki 130 laptop bantuan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Bank Jatim dan Irfa Group, serta sekitar 36–40 unit komputer. Perangkat tersebut digunakan secara terjadwal untuk mendukung kegiatan belajar dan persiapan ujian.
Meski persiapan telah dilakukan, pelaksanaan sesi pertama di SMA Dharma Wanita 1 Pare mengalami kendala teknis. Gangguan meliputi jaringan Wi-Fi, aplikasi Exambro, serta sejumlah laptop yang menjalankan pembaruan sistem sehingga aplikasi keluar sendiri atau membutuhkan waktu lama untuk memuat soal.
“Kemarin kendalanya ada pada Wi-Fi, aplikasi Exambro, dan beberapa laptop yang mengalami pembaruan sistem. Kami masih mengevaluasi penyebabnya agar pelaksanaan berikutnya bisa berjalan lebih baik,” kata Riris.
Keterangan mengenai gangguan teknis juga disampaikan Bambang, petugas yang menangani teknis TKA di SMAN 1 Puncu. Ia menjelaskan bahwa pada sesi pertama, hampir semua sekolah mengalami tampilan layar putih atau blank sehingga peserta tidak dapat mengerjakan soal.
Sebagian peserta juga harus berulang kali melakukan proses login dan logout. Kondisi tersebut mengganggu konsentrasi peserta selama ujian berlangsung.
Bambang menyebutkan, berdasarkan penjelasan dari server pusat, gangguan terjadi karena server tidak dapat menyediakan data untuk menampilkan soal ujian. Padahal, fasilitas di sekolah dinilai aman dan tidak mengalami kendala.
Sekolah telah menyediakan bandwidth sebesar 1 Gbps yang diarahkan ke tiga laboratorium komputer. Selain itu, sekolah menggunakan empat ruang laboratorium dengan kapasitas sekitar 75 siswa per sesi.
Penanganan sempat dilakukan dengan menunda ujian selama satu jam. Namun, ketika sesi kedua kembali dijalankan, gangguan layar putih masih terjadi.
Bambang menyebut beberapa peserta sempat menyelesaikan ujian, tetapi pengerjaannya tidak maksimal akibat gangguan tersebut. Pihak sekolah juga mengajukan agar peserta sesi pertama mengulang ujian atau mengikuti ujian susulan secara keseluruhan.
Memasuki sesi kedua dan ketiga, pelaksanaan TKA dilaporkan mulai berjalan normal dan lancar di seluruh sekolah. Menurut Bambang, gangguan pada hari itu terjadi secara merata, sedangkan pelaksanaan pada hari-hari sebelumnya berlangsung aman tanpa kendala berarti.
Dampak gangguan juga dirasakan Angga, salah satu peserta TKA. Kendala pada tampilan soal dan proses masuk kembali ke aplikasi menghambat pengerjaan serta mengganggu konsentrasi peserta selama ujian.
“Gangguan tadi cukup mengganggu karena kami harus menunggu soal muncul dan beberapa kali masuk kembali ke aplikasi. Akibatnya, waktu mengerjakan terasa terganggu dan kami berharap pelaksanaan berikutnya bisa berjalan lebih lancar,” ujar Angga.
Di luar persiapan akademik dan teknis, SMA Dharma Wanita 1 Pare juga memberikan pendampingan psikologis kepada siswa melalui wali kelas, guru bimbingan konseling (BK), serta pengasuh asrama. Pendekatan kekeluargaan dilakukan agar siswa dapat menyampaikan kendala dan mengelola kecemasan selama menghadapi ujian.
Riris menambahkan, hasil TKA dapat digunakan untuk melihat capaian akademik siswa selama enam semester sekaligus menjadi bahan evaluasi persiapan menuju perguruan tinggi. Apabila masih terdapat kekurangan, siswa dapat memperkuat persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi, termasuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Sekolah berharap hasil TKA semakin baik. Sementara itu, kendala teknis yang muncul menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan berikutnya dapat berjalan lebih optimal.


















Tinggalkan Balasan