KEDIRI, Tandaglobal.news — Warga Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tetap mendesak agar aktivitas pertambangan PT EPAS ditutup secara permanen. Desakan tersebut disampaikan meski warga masih menunggu hasil peninjauan tim independen sebagai bahan evaluasi terhadap aktivitas tambang.

Sugeng, perwakilan warga Puncu, mengatakan masyarakat tetap pada pendiriannya karena menilai keberadaan tambang merugikan warga yang tinggal di sekitarnya. Salah satu kekhawatiran utama adalah keberlangsungan sumber mata air yang dibutuhkan masyarakat.

“Dari pihak masyarakat, apa pun hasilnya, tambang itu tetap harus ditutup. Yang jelas, tambang itu sangat-sangat merugikan masyarakat yang berdomisili di sekitarnya, terutama karena menyangkut sumber mata air,” ujar Sugeng, Sabtu (24/10/2026).

Selain persoalan mata air, warga juga mengkhawatirkan dampak aktivitas pertambangan terhadap kondisi lingkungan di kawasan hulu aliran lahar dingin Gunung Kelud.

Menurut Sugeng, perubahan kondisi kawasan tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan potensi aliran material saat terjadi erupsi.

Ia mengingatkan peristiwa erupsi Gunung Kelud pada 1990 yang memicu kekhawatiran warga terhadap kemungkinan banjir bandang apabila kondisi kawasan hulu tidak terjaga.

Meski demikian, potensi tersebut masih perlu dikaji secara teknis untuk mengetahui tingkat risiko serta kaitannya dengan aktivitas pertambangan.

“Yang ditambang itu hulunya aliran-aliran lahar dingin. Warga khawatir kalau terjadi hal yang tidak diinginkan seperti letusan Gunung Kelud, bisa menimbulkan banjir bandang,” katanya.

Warga juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang dilalui kendaraan pengangkut material tambang. Truk bermuatan berat dinilai berpotensi mempercepat kerusakan jalan, terutama jika muatannya melebihi batas tonase yang diizinkan.

Bagi masyarakat, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga keselamatan dan kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Sugeng berharap aspirasi warga menjadi pertimbangan utama dalam proses evaluasi yang sedang berlangsung.

Ia mengapresiasi respons DPRD Kabupaten Kediri, khususnya Komisi III, yang menurutnya telah menanggapi keluhan dan aspirasi masyarakat.

Namun, warga masih menunggu kepastian mengenai keputusan akhir terkait kelanjutan operasional tambang.

Sugeng mengatakan pihak perusahaan masih menunggu hasil penilaian tim independen, sedangkan masyarakat tetap meminta penutupan permanen.

Menurutnya, perbedaan pandangan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah yang memberikan kepastian atas keresahan warga.

Terkait kondisi terkini, Sugeng menyebut aktivitas tambang sudah tidak berjalan selama beberapa hari terakhir.

Ia mengapresiasi pihak tambang yang telah menghentikan aktivitas sementara dan dinilai merespons keluhan masyarakat sekitar.

“Dari pihak tambang, saya sangat menghargai karena sudah tidak beraktivitas lagi. Mereka juga merespons apa yang menjadi keluh kesah masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Meski demikian, Sugeng belum dapat memastikan apakah penghentian tersebut akan berlanjut menjadi penutupan permanen atau aktivitas tambang kembali berjalan.

Ia menyebut kemungkinan adanya audiensi lanjutan maupun aksi warga masih bergantung pada perkembangan keputusan ke depan.

Bagi warga Puncu, kepastian mengenai masa depan tambang menjadi hal yang dinantikan.

Mereka berharap evaluasi tidak hanya mempertimbangkan operasional perusahaan, tetapi juga memperhatikan perlindungan sumber mata air, kondisi lingkungan, keselamatan warga, serta ketahanan infrastruktur di sekitar lokasi tambang.