

KEDIRI, Tandaglobal.news — Tepat pada peringatan Hari Tani Nasional, detak kehidupan agraris di Kabupaten Kediri masih terasa kuat, meski harus berpacu dengan beragam tantangan zaman. Di wilayah Kecamatan Gampengrejo, tepatnya di Desa Sambirejo dan Sambiresik, para petani dan buruh tani terus merawat asa di atas petak-petak tanah yang kian hari kian menyempit.
Bagi Palidi, seorang petani padi asal Desa Sambirejo, rutinitas bertani belakangan ini kerap diwarnai kecemasan. Sejak Juli lalu, sawahnya mulai didatangi tamu tak diundang: hama sundep.
Ulat penggerek batang padi ini memaksa para petani mengeluarkan usaha dan biaya ekstra hingga Rp 1,5 juta untuk membeli obat pembasmi gulma dan hama secara mandiri.
Tantangan tak berhenti pada hama. Pasokan pupuk bersubsidi yang menjadi urat nadi pertanian pun tak luput dari masalah.
Meski harganya cukup terjangkau, yakni di kisaran Rp 112.000 untuk jenis Phonska dan Urea, ketersediaannya sering kali tersendat.
“Kadang stok dari pemerintah belum ada, terpaksa menunggu sampai satu bulan. Kalau sudah mendesak, ya beli pupuk non-subsidi meski harganya mahal, supaya tanaman tetap terselamatkan,” tutur Palidi.
Keluhan serupa disuarakan oleh Baidhowi (56), seorang buruh tani asal Desa Sambiresik. Menurutnya, mengandalkan pupuk bersubsidi saja tidaklah cukup untuk memaksimalkan hasil panen.
Kandungan kalsium pada pupuk bersubsidi dirasa kurang, sehingga petani harus mencampurnya dengan pupuk non-subsidi seperti NPK, Cita, atau KCl yang harganya bisa menembus Rp 350.000 per sak.
“Kalau hanya pakai Phonska dan Urea, daun sebelum tua sudah menguning. Supaya butirannya penuh dan panen maksimal, nutrisinya harus ditambah,” jelas Baidhowi.
Ia juga menambahkan bahwa kelangkaan pupuk ini kerap membuat petani jagung dan padi saling berebut pasokan.
Meski dihadapkan pada masalah pupuk dan hama, ada secercah angin segar bagi para petani di musim kemarau ini. Pengadaan pompa air submersible (sibel) dari pemerintah daerah dirasa sangat membantu.



Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika mereka harus menyewa mesin diesel secara mandiri dengan biaya tinggi, kini pasokan air sumber dapat mengairi lahan tanpa henti secara gratis.
Ancaman alih fungsi lahan dan krisis regenerasi membayangi senyum para petani yang tengah menyambut harga gabah yang cukup baik, mencapai Rp 750.000 per kuintal dengan potensi panen 6 ton per 600 ru.
Tersimpan kekhawatiran mendalam akan masa depan ruang hidup mereka.
Pertumbuhan perumahan dan bangunan permanen di sekitar area Gampengrejo perlahan namun pasti kian menggerus luasan lahan pertanian.
Palidi, yang awalnya mengelola hingga 2 hektare lahan, kini terpaksa mengembalikan separuh lahan sewaannya karena beban biaya operasional dan risiko merugi dari sistem bagi hasil (maro).
“Sewa lahan per 100 ru harganya Rp 3,2 juta per tahun. Kalau maro malah sering rugi. Sayangnya, lahan di sekitar perumahan juga kualitasnya menurun,” ungkapnya.
“Sawah yang berbatasan dengan rumah warga sering kali dibuangi sampah kotoran. Sangat mengganggu. Setiap hari saya harus turun tangan membersihkannya sendiri,” lanjut Palidi dengan nada prihatin.
Baidhowi pun memendam kecemasan yang sama. Sebagai rakyat kecil, ia merasa tak memiliki daya menahan laju alih fungsi lahan.
“Tanah pertanian sering dipatok untuk perumahan. Akhirnya petani mau ke mana? Lahan di sini kan sempit, tidak seperti di Sumatra atau Kalimantan,” tambahnya lirih.
Masalah lain yang tak kalah pelik adalah krisis regenerasi buruh tani. Pekerjaan agraris ini makin sepi peminat di kalangan anak muda.
Ketidakpastian musim dan penghasilan yang bergantung pada masa panen membuat generasi penerus lebih memilih terjun ke sektor konstruksi bangunan yang dinilai lebih menjanjikan dan rutin.
Di usianya yang terus menua, Palidi, Baidhowi, dan ribuan petani lainnya di Kediri tetap setia mencangkul harapan.
Di momen Hari Tani Nasional ini, potret mereka menjadi pengingat bahwa pahlawan pangan tak hanya butuh apresiasi, melainkan aksi nyata untuk menjaga ruang dan keberlanjutan hidup mereka di tanahnya sendiri.




















Tinggalkan Balasan