Setelah cat dibersihkan secara maksimal, tahap berikutnya adalah pengaplikasian air rendaman tembakau dan cengkeh.
Bahan tersebut akan dioleskan menggunakan kuas, kemudian diusap dengan kain hingga kering.
Menurut Ahmad, penggunaan bahan alami tersebut memiliki fungsi perawatan.
Berdasarkan penelitian yang menjadi rujukan, tembakau dan cengkeh dapat membantu menghambat jamur, lichen atau lumut kerak, serta mencegah serangan rayap pada material kayu.
“Untuk perawatan, tembakau dan cengkeh itu ada efeknya untuk anti jamur, anti lichen, kemudian juga bisa mencegah rayap,” ujarnya.
Selain berfungsi sebagai bahan perawatan, metode tersebut dipilih untuk mempertahankan warna alami kayu.
Penggunaan pelapis modern dikhawatirkan mengubah tampilan asli material, misalnya membuat permukaan menjadi lebih mengilap.
Sigit menyarankan perawatan Situs Mbah Gleyor dilakukan secara berkala, idealnya setiap enam bulan hingga satu tahun.
Menurutnya, pemerintah daerah dan masyarakat sekitar perlu membangun kerja sama untuk memastikan keberlangsungan pelestarian situs.
“Artinya, pemerintah sudah hadir. Yang tidak kalah penting, benda-benda cagar budaya atau ODCB yang memang nilainya tinggi bagi masyarakat harus ada kerja sama antara dinas dengan pemilik,” katanya.
Mustika menambahkan, aspek pengamanan juga menjadi perhatian setelah insiden vandalisme terjadi.
Ia menyebut Situs Mbah Gleyor telah dilaporkan kepada kepolisian dan kasus vandalisme tersebut telah ditangani aparat.
Pemkab Kediri akan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk memperkuat perlindungan situs, termasuk mempertimbangkan pemasangan kamera pengawas atau CCTV.
Namun, menurutnya, kejadian itu menjadi evaluasi karena lokasi situs berada di tengah permukiman dan berdekatan dengan fasilitas umum.
“Ke depan perlindungan lebih intensif lagi. Mungkin ke depan ada pemasangan CCTV dan lain-lain,” pungkasnya.



















Tinggalkan Balasan