Selain kekeringan, risiko kebakaran juga meningkat seiring kondisi lingkungan yang semakin kering.
Cuaca panas dan kondisi kering yang berlangsung panjang juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, mencukupi kebutuhan air, serta mengurangi aktivitas di bawah paparan panas secara berlebihan.
Satria mengatakan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan secara khusus merupakan kewenangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Namun, berdasarkan informasi yang diterima BMKG dari BPBD, sejumlah wilayah sebelumnya rawan mengalami kekeringan.
Salah satunya wilayah Pojok, Kota Kediri.
Kendati demikian, kondisi tahun ini disebut masih relatif aman karena langkah mitigasi telah dilakukan sejak dini melalui koordinasi antarlembaga.
“Untuk wilayah Kota Kediri itu di wilayah Pojok. Ini alhamdulillah yang tahun-tahun sebelumnya ada bencana kekeringan, tahun ini masih cukup aman karena dari awal ketika kami berkoordinasi sudah dimitigasi sedini mungkin,” ujarnya.
Di tengah kondisi kemarau yang masih panjang, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran maupun gangguan kesehatan akibat cuaca panas.
BMKG juga terus mendorong penguatan diseminasi informasi cuaca, iklim, dan kebencanaan kepada masyarakat.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk media, dinilai penting agar informasi peringatan dini dapat diterima masyarakat secara lebih luas dan cepat.
BMKG memprediksi kondisi kering di Kediri masih berlanjut hingga Oktober 2026, dengan sifat hujan di sebagian besar wilayah Kediri berada pada kategori bawah normal.
Kondisi ini membuat kewaspadaan terhadap kekeringan dan penggunaan air secara bijak perlu terus ditingkatkan.




















Tinggalkan Balasan