KEDIRI, Tandaglobal.news — Krisis air bersih mulai dirasakan warga Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, di tengah puncak musim kemarau. Kondisi tersebut membuat BPBD Kabupaten Kediri melakukan dropping air bersih secara rutin untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, mengatakan Desa Ponggok menjadi wilayah yang paling membutuhkan penanganan akibat kekeringan dibandingkan sejumlah daerah rawan lainnya.
“Di Kabupaten Kediri ini kekeringan itu di wilayah Mojo, di Desa Ponggok. Kita sudah operasional untuk pengiriman air bersih dengan menggunakan tangki,” ujar Djoko.
Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebutuhan air bersih warga Ponggok cukup tinggi.
BPBD menjadwalkan pengiriman bantuan hingga tiga kali dalam sepekan, dengan setiap pengiriman mencapai rata-rata dua hingga tiga rit.
Satu tangki membawa sekitar 5.000 liter air bersih. Namun, persediaan air warga yang semakin menipis membuat air bantuan tersebut harus diprioritaskan untuk kebutuhan memasak.
Sementara kebutuhan lain, seperti mandi, masih belum tercukupi.
“Persediaan air bersih itu sudah minim sekali sehingga hanya cukup untuk masak. Nah, untuk mandi itu belum ada,” jelasnya.
Dropping air telah dimulai sejak 12 Agustus 2026 dan distribusinya dilakukan secara bertahap ke sejumlah dusun hingga tingkat RT.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau warga yang paling membutuhkan.
Djoko menyebut sejumlah wilayah lain yang selama ini juga menjadi titik rawan kekeringan masih relatif aman.
Di antaranya Babatan dan Sempu di Kecamatan Ngancar, Sepawon, Wonorejo dan Trisulo di Kecamatan Plosoklaten, Bulu dan Ngreco di Kecamatan Semen, Kalipang, Kebonrejo dan Mesowo di Kecamatan Kepung, serta Manyaran.




















Tinggalkan Balasan