KEDIRI, Tandaglobal.news Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri menyebut kondisi ketersediaan air bersih di Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, belum masuk kategori kritis. Meski debit sumber air mengalami penurunan, kebutuhan warga secara umum masih dinilai tercukupi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, mengatakan penurunan debit air membuat distribusi kepada warga harus dilakukan secara bergiliran.

Namun, kondisi tersebut belum sampai membutuhkan intervensi langsung dari BPBD.

“Desa Ponggok sendiri sebenarnya belum kritis kekurangan air. Hanya memang sekarang ada penurunan debit sehingga perlu bergiliran untuk airnya,” ujar Stefanus.

Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Kediri juga belum melakukan dropping air ke Desa Ponggok.

Menurut Stefanus, belum ada permintaan resmi dari pemerintah desa terkait bantuan distribusi air bersih.

Meski demikian, kebutuhan air warga di wilayah tersebut mulai mendapat perhatian dari Palang Merah Indonesia (PMI).

Pada Agustus ini, PMI berencana melakukan distribusi air bersih sebanyak lima kali ke Desa Ponggok.

Setiap kali distribusi, air yang disalurkan mencapai sekitar 20.000 liter atau dua tangki dengan kapasitas masing-masing 10.000 liter.

Bantuan tersebut ditujukan kepada sekitar 200 kepala keluarga di Dusun Tumpak Nongko, Desa Ponggok.

“Rencananya bulan Agustus ini dari PMI dijatah lima kali di Ponggok. Satu hari sekitar 10.000 liter, dua tangki,” jelasnya.

Distribusi dari PMI tersebut untuk sementara dijadwalkan berlangsung selama Agustus.

Jika nantinya dukungan PMI terhenti karena keterbatasan anggaran, sementara kebutuhan air warga masih mendesak, BPBD Kabupaten Kediri menyatakan siap turun tangan.

“Kalau misalkan dari PMI sudah tidak ada anggaran, kemudian memang itu dibutuhkan, BPBD jelas siap,” tegas Stefanus.

Terkait kondisi sumber air di Desa Ponggok, Stefanus menjelaskan wilayah tersebut memang tidak memiliki sumber mata air sendiri.

Selama ini kebutuhan air warga mengandalkan sumber dari Desa Petungroto serta sebagian aliran sungai yang berada di wilayah Ponggok.

“Di Desa Ponggok itu tidak ada sumber mata air sama sekali. Jadi selama ini memanfaatkan sumber dari Desa Petungroto dan sebagian dari sungai yang mengalir di Desa Ponggok,” katanya.

Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa warga di sejumlah wilayah Ponggok merasakan dampak lebih besar ketika debit sumber air menurun saat musim kemarau.

Sebagian warga bahkan memanfaatkan rembesan dari aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan air, meski penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi dan kualitas air.

BPBD memastikan kondisi Desa Ponggok secara umum masih dalam tahap aman.

Namun, penurunan debit air tetap menjadi perhatian, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dan ketersediaan sumber air terus menurun.

“Masih aman. Memang ada penurunan debit air sehingga air itu bergiliran. Tapi secara umum masih cukup,” pungkas Stefanus.