Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat juga merupakan bagian dari upaya negara memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Konsep tersebut kemudian diterapkan melalui pendekatan yang berbeda dengan sekolah reguler.

Sekolah Rakyat tidak sekadar menunggu anak mendaftar, melainkan melakukan penjangkauan terhadap calon siswa yang memenuhi kriteria, termasuk dari kelompok desil 1 dan 2.

“Sekolah rakyat hadir untuk menjangkau yang belum terjangkau. Kemudian memungkinkan yang tidak mungkin. Artinya, anak-anak yang sebelumnya mungkin tidak punya bayangan untuk bisa sekolah, dengan hadirnya sekolah rakyat mereka menjadi mungkin untuk sekolah,” jelasnya.

Fadli menambahkan pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada capaian akademik.

Pembentukan karakter, kemandirian dan keterampilan hidup menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.

Program persiapan bagi siswa bahkan berlangsung hingga dua bulan untuk membangun kedekatan antara siswa, guru dan lingkungan sekolah.

Setelah itu, siswa mengikuti pembelajaran akademik yang dilengkapi kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Khusus ekstrakurikuler, Sekolah Rakyat menyiapkan program berbasis minat sekaligus keterampilan hidup.

Sejumlah bidang yang dikembangkan antara lain peternakan, perikanan, boga, busana, coding, batik, pangkas rambut hingga perhotelan.

“Sekolah rakyat berdiri dalam rangka memotong rantai kemiskinan. Secara moral kami punya beban bahwa anak ini ketika lulus harus bisa mandiri secara ekonomi,” ungkap Fadli.