KEDIRI, Tandaglobal.news — Penjualan tebon atau daun dan batang jagung sebagai pakan ternak mengalami peningkatan selama musim kemarau.
Kondisi tersebut terjadi karena peternak sapi kesulitan mendapatkan pakan hijauan, sehingga permintaan tebon di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tetap tinggi, Kamis (13/8/2026).
Sutomo, salah satu penjual tebon di Dusun Dorok, mengatakan permintaan dari peternak justru lebih ramai dibandingkan musim penghujan.
Para pembeli umumnya mencari tebon yang masih hijau karena kualitasnya dinilai lebih baik sebagai pakan ternak sapi.
“Kalau musim kemarau seperti sekarang, yang mencari tebon malah banyak. Pembeli lebih memilih tebon yang masih hijau karena pakan hijauan lebih sulit didapat,” ujar Sutomo.
Saat ini, Sutomo menjual tebon hijau dengan harga sekitar Rp10 ribu untuk satu bongkok atau satu ikat.
Sementara itu, tebon yang sudah dalam kondisi kering memiliki harga lebih rendah, yakni dapat turun hingga sekitar Rp5 ribu per ikat.
Menurut Sutomo, harga tebon selama musim kemarau masih relatif stabil meskipun permintaan mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut membuat penjualan tetap berjalan karena kebutuhan peternak terhadap pakan hijauan cukup tinggi.
Namun, tingginya permintaan belum selalu diikuti dengan ketersediaan tebon hijau.
Sutomo menyebut pasokan terkadang terlambat karena pemasok kesulitan mendapatkan tanaman yang masih hijau selama musim kemarau.
“Kadang setoran terlambat karena mencari tebon yang masih hijau memang lebih sulit. Apalagi sekarang banyak lahan yang sudah kering,” jelasnya.
Tebon yang dijual tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Dusun Dorok.
Pasokan juga datang dari sejumlah daerah lain, baik dari wilayah lokal maupun luar daerah, untuk memenuhi kebutuhan peternak yang terus mencari pakan.
Sutomo menambahkan, meskipun harga tebon tetap stabil, tingginya minat pembeli membuat aktivitas penjualan tetap ramai.
Bahkan, permintaan pada musim kemarau dinilai lebih tinggi karena peternak membutuhkan alternatif pakan untuk ternaknya.
Kondisi tersebut membuat penjualan tebon menjadi salah satu usaha yang tetap memiliki permintaan selama musim kemarau.
Bagi penjual, tingginya kebutuhan peternak menjadi peluang untuk mempertahankan penjualan di tengah keterbatasan pakan hijauan.




















Tinggalkan Balasan