Sementara itu, selada hasil budidaya konvensional dari Malang pernah ditawarkan dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram.

Selain memiliki harga jual lebih tinggi, selada hidroponik dinilai memiliki tampilan yang lebih menarik dan tekstur lebih renyah.

Selada juga dapat bertahan lebih lama setelah dipanen apabila ditangani dengan baik.

“Kalau tanamannya tidak stres, seladanya lebih renyah, tidak pahit, dan daya simpannya juga lebih lama,” katanya.

Meski demikian, budidaya hidroponik membutuhkan perawatan yang konsisten.

Farid harus menjaga kadar PPM air, pH, serta suhu nutrisi agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.

Lokasi budidaya juga harus mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.

Untuk meningkatkan produksi, Farid kini menambah kapasitas instalasi hidroponiknya.

Dari sebelumnya empat meja, jumlah tersebut sedang dikembangkan menjadi delapan meja.

Farid berharap serapan pasar, termasuk dari program MBG, dapat terus stabil sehingga pengembangan usaha dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Ia juga berharap usaha tersebut nantinya mampu menyerap tenaga kerja lokal dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.