KEDIRI, Tandaglobal.news Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membuka peluang pasar bagi petani selada hidroponik di Kabupaten Kediri. Kondisi tersebut dirasakan Farid, pemilik budidaya selada hidroponik di Dusun Kwagean, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang kembali mengembangkan usahanya setelah sempat berhenti akibat pandemi COVID-19.

Farid mengatakan dirinya telah menekuni budidaya hidroponik sejak sebelum pandemi atau sekitar tujuh tahun lalu.

Namun, usaha tersebut sempat terhenti cukup lama karena kebijakan pembatasan kegiatan membuat pemasaran hasil panen menjadi sulit.

Setelah program MBG berjalan, Farid kembali melihat peluang pasar yang lebih baik.

Permintaan dan serapan selada membuat dirinya mulai mengembangkan kembali budidaya hidroponik secara bertahap.

“Setelah ada MBG, pemasaran selada hidroponik kembali bagus. Karena itu kami mulai mengembangkan lagi usaha yang sempat berhenti,” ujar Farid, Senin (10/8/2026).

Selain selada sebagai komoditas utama, Farid juga menanam seledri dan pakcoy menggunakan sistem hidroponik.

Ia menyebut masa tanam pakcoy relatif sama dengan selada, yakni sekitar 40 hari hingga siap dipanen.

Menurut Farid, budidaya hidroponik memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan tanaman yang dibudidayakan secara konvensional.

Perawatan tanaman lebih mudah karena petani tidak perlu membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman.

Dari sisi harga, selada hidroponik juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Selada hidroponik untuk kebutuhan MBG dapat dihargai sekitar Rp25.000 per kilogram.

Sementara itu, selada hasil budidaya konvensional dari Malang pernah ditawarkan dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram.

Selain memiliki harga jual lebih tinggi, selada hidroponik dinilai memiliki tampilan yang lebih menarik dan tekstur lebih renyah.

Selada juga dapat bertahan lebih lama setelah dipanen apabila ditangani dengan baik.

“Kalau tanamannya tidak stres, seladanya lebih renyah, tidak pahit, dan daya simpannya juga lebih lama,” katanya.

Meski demikian, budidaya hidroponik membutuhkan perawatan yang konsisten.

Farid harus menjaga kadar PPM air, pH, serta suhu nutrisi agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.

Lokasi budidaya juga harus mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.

Untuk meningkatkan produksi, Farid kini menambah kapasitas instalasi hidroponiknya.

Dari sebelumnya empat meja, jumlah tersebut sedang dikembangkan menjadi delapan meja.

Farid berharap serapan pasar, termasuk dari program MBG, dapat terus stabil sehingga pengembangan usaha dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Ia juga berharap usaha tersebut nantinya mampu menyerap tenaga kerja lokal dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.