Peralatan yang digunakan juga masih mengandalkan peralatan manual, di antaranya dua gepyok, satu polarion serta perlengkapan pendukung lainnya.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penelusuran.
Petugas menduga api muncul akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab, namun informasi tersebut masih dalam proses pendalaman.
Stefanus Djoko Sukrisno mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan yang memiliki banyak vegetasi dan material kering.
Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Puntung rokok juga tidak boleh dibuang sembarangan, terutama di dekat rumput atau semak yang mengering.
Selain itu, warga diminta memastikan bara maupun sisa pembakaran benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.
Pengawasan bersama terhadap kawasan rawan kebakaran juga perlu ditingkatkan.
“Segera laporkan kepada aparat desa, kepolisian, petugas pemadam atau BPBD apabila melihat adanya titik api,” imbaunya.
Kebakaran di Gunung Klotok menjadi pengingat bahwa memasuki musim kemarau, material vegetasi yang mengering dapat membuat api dengan cepat berkembang.
Kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci agar kejadian serupa tidak meluas dan mengancam kawasan hutan maupun lingkungan di sekitarnya.




















Tinggalkan Balasan