Aceh Tengah, Tandaglobal.news Dataran Tinggi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah telah lama dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi arabika terbaik di dunia. Di balik popularitas Kopi Gayo yang kini menembus pasar internasional, kawasan Takengon menyimpan sejarah panjang perkembangan industri pengolahan kopi yang dimulai sejak masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Pemerintah kolonial Belanda mulai mengembangkan perkebunan kopi secara intensif di kawasan Gayo setelah Aceh Tengah berada di bawah kendali administrasi kolonial. Takengon kemudian ditetapkan sebagai pusat pemerintahan setempat, sementara pembangunan jalan yang menghubungkan Takengon dengan Bireuen pada 1914 membuka akses bagi berkembangnya perkebunan kopi komersial.

Perkebunan kopi arabika mulai dibuka secara sistematis di kawasan Belang Gele sekitar 1918. Seiring meningkatnya hasil produksi, Belanda membangun fasilitas pengolahan kopi, termasuk pabrik pengeringan kopi di Desa Wih Porak, Kecamatan Silih Nara, yang menjadi salah satu bukti berkembangnya industri kopi Gayo pada masa kolonial.

Di kawasan Wih Porak hingga kini masih ditemukan sisa-sisa bangunan peninggalan kolonial berupa pondasi, dinding bangunan, saluran air, kolam pencucian kopi, area penjemuran, serta bekas kincir air yang dahulu dimanfaatkan sebagai sumber tenaga dalam proses pengolahan kopi.

Keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan bahwa kawasan Gayo telah memiliki unit pengolahan kopi terpadu sejak lebih dari satu abad lalu, bukan hanya sebagai wilayah budidaya kopi.

Memasuki dekade 1920-an, aktivitas perkebunan dan pengolahan kopi berkembang semakin pesat. Masyarakat Gayo yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan mulai mempelajari teknik budidaya dan pengolahan kopi dari pengelola kolonial sehingga kopi perlahan berkembang menjadi tanaman rakyat.

Biji kopi diproses melalui tahapan pencucian, fermentasi, penjemuran, pengupasan kulit tanduk, penyortiran, hingga pengemasan sebelum dikirim ke pelabuhan di pesisir utara Aceh untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara.

Setelah Indonesia merdeka, banyak fasilitas pengolahan kopi peninggalan kolonial mengalami perubahan fungsi maupun pengelolaan. Pabrik pengeringan di Wih Porak sempat dikelola oleh sejumlah perusahaan swasta hingga akhir 1970-an sebelum berada di bawah pengelolaan instansi perkebunan pemerintah daerah.

Seiring berkembangnya perkebunan rakyat, industri kopi Gayo bertransformasi menjadi jaringan petani, koperasi, serta unit pengolahan kopi yang dikelola masyarakat.

Kini, Kopi Arabika Gayo telah memperoleh pengakuan internasional melalui status Indikasi Geografis (IG) serta perlindungan di sejumlah negara, termasuk Uni Eropa dan Inggris.


Sebagian besar produksi kopi Gayo saat ini berasal dari perkebunan rakyat di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, yang didukung oleh koperasi serta pabrik-pabrik pengolahan modern di sekitar Takengon.

Jejak pabrik pengeringan kopi di Wih Porak menjadi pengingat bahwa kejayaan Kopi Gayo tidak hadir secara instan. Sejarah panjang perkebunan dan industri pengolahan kopi sejak era kolonial telah membentuk identitas Takengon sebagai salah satu pusat penghasil kopi arabika paling bergengsi di dunia.