Debu dan Asap Picu Lonjakan Kasus ISPA di Kediri

Petugas kesehatan mengimbau masyarakat memakai masker dan menerapkan PHBS menyusul tingginya kasus ISPA selama musim kemarau di Kabupaten Kediri. (Dok. Wildan Wahid Hasyim / Tandaglobalnews )

Tandaglobalnews KEDIRI – Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Kabupaten Kediri selama musim kemarau. Tingginya paparan debu, asap pembakaran sampah, hingga aktivitas pembakaran lahan pertanian diduga menjadi faktor utama meningkatnya kasus gangguan pernapasan tersebut.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri menunjukkan jumlah kasus ISPA sepanjang semester pertama 2026 masih tergolong tinggi. Pada Januari tercatat 5.894 kasus, Februari 3.592 kasus, Maret 9.324 kasus, April 11.274 kasus, Mei 11.461 kasus, dan Juni sebanyak 9.568 kasus.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Bambang, menjelaskan tingginya kasus ISPA dipengaruhi perubahan cuaca dan kondisi lingkungan yang memudahkan penyebaran virus penyebab gangguan pernapasan.

“Sejak musim penghujan keluhan batuk dan pilek hampir selalu ada karena virus menyerang saat kondisi tubuh menurun. Apalagi saat terjadi pergantian musim atau pancaroba,” ujarnya.

Memasuki musim kemarau, risiko penyakit pernapasan semakin meningkat seiring banyaknya debu yang beterbangan dan asap hasil pembakaran sampah maupun sisa panen.

Dokter Puskesmas Pare, dr Raras, mengatakan sebagian besar pasien yang datang dalam beberapa pekan terakhir mengalami ISPA dengan gejala batuk, pilek, demam, hingga sesak napas.

“Sekarang cuaca sangat panas sehingga debu sangat banyak. Selain itu masih banyak masyarakat yang membakar sampah. Di beberapa wilayah juga ada pembakaran sisa panen tebu. Kondisi ini membuat kasus infeksi saluran pernapasan meningkat,” jelasnya.

Menurut dr Raras, ISPA menjadi penyakit yang paling dominan dibandingkan keluhan kesehatan lainnya. Bahkan sekitar 80 hingga 90 persen pasien yang datang berobat dalam beberapa minggu terakhir mengalami gangguan pernapasan tersebut.

“Yang paling utama tetap ISPA. Di minggu-minggu ini sekitar 80 sampai 90 persen pasien yang datang berobat mengalami ISPA,” katanya.

Baca Juga  Perbaikan Jembatan Tulung Mulai Dikerjakan, Akses Menuju Medowo Ditutup Total

Kelompok anak-anak menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Paparan debu dan asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan anak karena ukuran saluran napas yang lebih kecil dibanding orang dewasa.

“Kalau pada anak-anak, lendir sedikit saja sudah bisa menyumbat saluran napas. Akibatnya mereka lebih mudah mengalami sesak napas, sulit tidur, rewel, hingga demam yang semakin tinggi,” ungkapnya.

Selain ISPA, dr Raras juga menemukan peningkatan kasus cacar air atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan cangkrangan. Penyakit yang disebabkan virus varicella-zoster tersebut mudah menular, terutama di lingkungan dengan kontak erat seperti pondok pesantren.

“Beberapa waktu lalu ada kasus di pondok pesantren. Karena anak yang sakit tidak dipisahkan, akhirnya satu kelompok atau satu ruangan ikut tertular,” jelasnya.

Sementara itu, kasus diare juga masih ditemukan, terutama pada anak-anak. Kondisi ini umumnya dipicu kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan atau mengonsumsi makanan yang terpapar debu dan kuman.

Untuk mencegah peningkatan kasus penyakit selama musim kemarau, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah sederhana seperti memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari pembakaran sampah, serta menjaga daya tahan tubuh dinilai efektif mengurangi risiko penyakit.

“Kalau keluar rumah sebaiknya memakai masker. Biasakan cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan, serta hindari asap rokok terutama di sekitar anak-anak,” pesan dr Raras.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala ISPA yang disertai demam tinggi, sesak napas, atau keluhan yang tidak kunjung membaik.

Jurnalis : Wildan Wahid Hasyim

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *