Kediri, Tandaglobal.news Harga mentimun di Pasar Pahing, Kota Kediri, melonjak tajam hingga mencapai Rp7.000 per biji. Kenaikan komoditas yang biasa menjadi pelengkap lalapan dan berbagai masakan itu membuat pembeli maupun pedagang sama-sama mengeluhkan kondisi tersebut.

Sunarti, salah seorang pembeli, mengaku terkejut dengan lonjakan harga mentimun yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal.

Kondisi itu membuatnya harus mengurangi jumlah pembelian agar pengeluaran belanja tetap sesuai anggaran.

“Biasanya mentimun murah, sekarang sampai Rp7.000 per biji. Jadi saya beli seperlunya saja,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

Ia mengatakan kenaikan harga juga memengaruhi menu masakan di rumah.

Selama harga masih tinggi, dirinya memilih mengganti mentimun dengan jenis sayuran lain yang harganya lebih terjangkau.

Selain mengurangi jumlah pembelian, sebagian konsumen juga terlihat lebih teliti membandingkan harga di setiap lapak sebelum memutuskan membeli.

Tidak sedikit pembeli yang akhirnya membeli mentimun secara satuan agar pengeluaran harian tetap terkendali.

“Kalau harganya masih mahal seperti ini, saya lebih memilih sayuran lain dulu supaya anggaran belanja tidak membengkak,” tambahnya.

Di sisi lain, para pedagang mengaku ikut terdampak akibat kenaikan harga tersebut. Mereka harus lebih berhati-hati dalam menyetok mentimun karena harga kulakan meningkat, sementara komoditas itu mudah rusak apabila tidak segera terjual.

Seorang pedagang di Pasar Pahing yang enggan disebutkan namanya mengatakan kenaikan harga dipicu terbatasnya pasokan dari tingkat grosir.

Kondisi tersebut membuat harga jual di tingkat pasar ikut mengalami penyesuaian.

“Kami juga dapat barang dari pemasok sudah mahal. Mau tidak mau harga jual ikut naik karena modalnya tinggi,” katanya.

Menurutnya, tingginya harga mentimun berdampak langsung terhadap minat beli masyarakat.

Konsumen yang biasanya membeli beberapa buah kini hanya membeli satu hingga dua buah.

Meski demikian, para pedagang berharap pasokan segera kembali normal sehingga harga mentimun berangsur turun dan aktivitas jual beli di pasar kembali ramai.

“Sekarang pembeli lebih banyak bertanya harga. Ada yang akhirnya hanya beli satu biji, bahkan ada yang batal karena dianggap terlalu mahal,” pungkasnya.