Kediri, Tandaglobal.news — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pegiat budaya sekaligus Ketua Harian Situs Rumah Persada Soekarno, Kushartono, mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan lebih dalam, bukan hanya melalui upacara dan perlombaan setiap 17 Agustus.

Kushartono menilai tantangan bangsa Indonesia saat ini bukan lagi mempertahankan kemerdekaan secara fisik, melainkan menjaga kesadaran berbangsa serta membangun karakter masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus globalisasi.

“Kita harus membangun kesadaran berbangsa dan kesadaran bernegara. Kalau kemerdekaan hanya dipahami sebagai seremoni tanpa memahami sejarah perjuangannya, yang hilang adalah kesadaran kita sebagai bangsa,” ujarnya saat ditemui di Situs Rumah Persada Soekarno, Kediri.

Menurutnya, perkembangan teknologi termasuk Artificial Intelligence (AI) merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia yang memiliki karakter kuat agar dapat digunakan secara bijak.

“AI itu seperti senjata. Bisa membawa manfaat yang besar, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang merugikan. Karena itu yang harus diperkuat bukan hanya pengetahuan, tetapi rasa kebangsaan dan karakter manusianya,” katanya.

Ia menjelaskan, masyarakat saat ini menghadapi kondisi melimpahnya informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tantangan terbesar bukan lagi mendapatkan informasi, melainkan memilah informasi yang benar di tengah derasnya arus media sosial.

“Kita sekarang mengalami information overload. Cipta kita berkembang sangat cepat, tetapi rasa justru melemah. Padahal budaya itu bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga soal rasa,” jelasnya.

Kushartono menyebut, gagasan Bung Karno mengenai nation and character building masih relevan untuk menghadapi berbagai persoalan sosial saat ini.

Mulai dari penyebaran hoaks, perundungan, menurunnya empati, hingga munculnya polarisasi di ruang digital.

“Karakter itu bukan sekadar hafalan atau pengetahuan. Karakter adalah kesadaran yang tertanam dalam diri seseorang. Kalau karakter kuat, orang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang merusak,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai materi pelajaran atau sekadar dihafalkan.

Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar mampu menjadi pedoman menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Kita sering memahami Pancasila, tetapi belum menyadarinya. Padahal kesadaran itulah yang akan membentuk perilaku,” katanya.

Sebagai pengelola Situs Rumah Persada Soekarno, Kushartono mengatakan pihaknya terus mengembangkan pusat pendidikan karakter dan kebangsaan yang telah dikunjungi pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah sekaligus membangun karakter generasi muda agar memiliki pemahaman lebih baik mengenai nilai perjuangan bangsa.

Menjelang Indonesia Emas 2045, Kushartono mengajak seluruh elemen masyarakat tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi mulai mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.

“Jangan hanya bertanya apa yang kita dapatkan dari bangsa ini. Bertanyalah apa yang bisa kita berikan untuk bangsa, meskipun hanya setetes air. Sekecil apa pun kontribusi kita, itulah yang akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih kuat,” pungkasnya.