
Tandaglobal.news | Kediri — Mendirikan sebuah sekolah tidak hanya membutuhkan tenaga pendidik, kurikulum, maupun sarana belajar. Bagi Dewi Faridha, pendiri Sekolah Saka di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, tantangan terbesar justru terletak pada upaya mengubah cara pandang masyarakat, khususnya orang tua, terhadap tujuan utama pendidikan.
Selama 16 tahun mengembangkan sekolah berbasis pengembangan potensi anak tersebut, Dewi mengaku masih terus berupaya meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan bukan sekadar soal gedung yang megah, seragam yang rapi, ataupun status sekolah favorit.
Menurutnya, esensi pendidikan adalah membekali anak agar mampu menghadapi kehidupan sesuai potensi yang dimilikinya.
“Tantangan paling berat itu meng-open mind orang tua. Sekolah itu sebenarnya untuk apa? Esensinya kan mempersiapkan anak agar mampu menjalani kehidupannya, bukan sekadar mengejar label sekolah,” ujarnya.
Gagasan mendirikan Sekolah Saka berawal dari pengalaman pribadi Dewi sebagai seorang ibu.
Saat itu ia menilai sistem pendidikan yang dijumpainya belum mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak yang memiliki karakter serta kecepatan belajar yang berbeda-beda.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, ia kemudian mendirikan Sekolah Saka dengan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pengembangan potensi, karakter, dan pengalaman nyata.
Sistem belajar dirancang dalam kelompok kecil sehingga guru dapat memberikan pendampingan secara lebih intensif kepada setiap peserta didik.
Menurut Dewi, proses belajar tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah. Para siswa juga diajak mengikuti berbagai kegiatan di luar ruang kelas, mulai dari eksplorasi lingkungan, proyek sosial, hingga program live in yang memungkinkan mereka tinggal bersama masyarakat dalam kurun waktu tertentu.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa didorong untuk belajar berinteraksi, berkomunikasi, memecahkan persoalan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab melalui pengalaman secara langsung.
“Anak-anak belajar langsung bagaimana berinteraksi dengan masyarakat, menyelesaikan masalah, berkomunikasi, dan bertanggung jawab. Hal-hal seperti itu tidak selalu didapatkan di dalam kelas,” katanya.
Konsep tersebut menjadi pembeda Sekolah Saka dibandingkan sekolah formal pada umumnya. Dari sisi legalitas, sekolah ini berada di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Menurut Dewi, model tersebut memberikan keleluasaan dalam menyusun kurikulum yang lebih menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan setiap anak.
Namun demikian, status sebagai lembaga pendidikan nonformal masih menjadi tantangan tersendiri.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata lulusan PKBM karena menganggap ijazah yang diterbitkan berbeda dengan sekolah formal.
Padahal, menurut Dewi, kualitas lulusan justru menjadi bukti bahwa sistem pendidikan yang diterapkan mampu menghasilkan peserta didik yang kompetitif.
Sejumlah alumni Sekolah Saka telah berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bahkan memperoleh kesempatan belajar di luar negeri melalui program beasiswa.
“Yang penting itu kualitas dan kompetensi anak. Faktanya, ada lulusan kami yang mendapat beasiswa ke luar negeri dan ada juga yang lolos ke perguruan tinggi negeri melalui jalur seleksi nasional,” tuturnya.
Di tengah semakin banyaknya sekolah baru yang bermunculan, Dewi mengaku tidak melihat kondisi tersebut sebagai bentuk persaingan.
Menurutnya, setiap sekolah memiliki segmen masing-masing, sementara Sekolah Saka hadir bagi keluarga yang menginginkan pendidikan berbasis pengembangan karakter, kecakapan hidup, dan bakat anak.
Saat ini sekitar 80 siswa dari berbagai jenjang pendidikan menempuh proses belajar di Sekolah Saka.
Sebagian besar bergabung melalui rekomendasi keluarga maupun kerabat yang telah mengenal konsep pendidikan yang diterapkan sekolah tersebut.
Menutup perbincangan, Dewi berharap kebijakan pendidikan di Indonesia tetap berorientasi pada tujuan utamanya, yakni mempersiapkan generasi muda agar siap menghadapi kehidupan di masa depan.
“Pesan saya sederhana, pendidikan jangan kehilangan fokus. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depannya. Fokus saja ke situ,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan