Tandaglobal.news | Kediri – SLB Dharma Wanita Pare terus memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik setiap peserta didik. Selain mengembangkan kemampuan akademik, sekolah juga menyediakan layanan terapi dan pendampingan untuk mendukung perkembangan sosial, emosional, serta kemandirian siswa.

SLB Dharma Wanita Pare menyelenggarakan jenjang pendidikan yang lengkap, mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Seluruh proses pembelajaran dirancang sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik agar mereka dapat berkembang secara optimal.

Guru SLB Dharma Wanita Pare, Ika, mengatakan sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga berupaya membangun kemampuan sosial, emosional, dan kemandirian siswa melalui berbagai program pendampingan.

Menurut Ika, sistem pembagian kelas di sekolah diterapkan secara heterogen. Siswa dengan berbagai jenis hambatan tidak ditempatkan dalam satu kelas yang sama, melainkan dibagi secara merata agar guru lebih mudah memberikan pendampingan sekaligus mendorong interaksi sosial yang positif antarpeserta didik.

“Kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci keberhasilan pendidikan anak berkebutuhan khusus,” kata Ika.

Setiap kelas diisi maksimal enam hingga tujuh siswa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif. Dengan jumlah peserta didik yang terbatas, guru memiliki kesempatan memberikan perhatian dan pendampingan secara lebih intensif sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Selain layanan pembelajaran, sekolah juga kembali melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal tahun ajaran baru. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari pendataan siswa baru untuk memastikan setiap peserta didik memperoleh layanan yang sesuai.

Dalam mendukung perkembangan siswa, SLB Dharma Wanita Pare bekerja sama dengan Yayasan Jenggala untuk menyediakan layanan terapi. Terapi akupresur dilaksanakan setiap hari Rabu bagi siswa yang cenderung hiperaktif, sedangkan terapi fisioterapi diberikan setiap hari Jumat kepada anak dengan kondisi cerebral palsy (CP) atau hambatan motorik.

“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda, dan tugas kami adalah mendampingi mereka agar berkembang secara optimal,” ujar Ika.

Selain memberikan layanan pendidikan dan terapi, sekolah terus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif agar setiap peserta didik dapat belajar sesuai kemampuan masing-masing. Ika berharap kolaborasi antara sekolah dan orang tua terus terjalin sehingga pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat dilanjutkan di rumah. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam membantu anak tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki.


Jurnalis: Maulana Rahmadha