Mas Dhito menilai pembangunan hotel haji memiliki prospek besar karena berpotensi menjadi hotel haji pertama di Indonesia.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pemanfaatan bangunan tidak hanya berfokus pada musim haji, tetapi juga memiliki fungsi yang berkelanjutan sepanjang tahun.

“Harus dipikirkan juga di luar season haji supaya tidak hanya sekadar bangunan yang berdiri melayani musim haji. Begitu musim haji selesai, bangunan ini juga harus tetap bermanfaat,” tegasnya.

Rencana pembangunan hotel haji tersebut dinilai sejalan dengan pengembangan Bandara Dhoho sebagai salah satu opsi embarkasi haji di Jawa Timur.

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi kesiapan teknis dan operasional embarkasi haji di Asrama Haji Sukolilo, Bandara Dhoho disebut memiliki peluang menjadi pusat pemberangkatan jamaah haji bagi wilayah Mataraman.

Apabila rencana itu terealisasi, Bandara Dhoho berpotensi melayani keberangkatan jamaah haji dari sekitar 10 hingga 12 kabupaten/kota di kawasan Mataraman.

Kehadiran hotel haji di sekitar bandara diharapkan dapat memperkuat ekosistem layanan haji sekaligus mendukung pengembangan kawasan strategis di Kabupaten Kediri.