
Tandaglobal.news | KEDIRI – Kamis, 25 Juni 2026, kawasan Sumber Kurung Jengkol di wilayah Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, kembali menjadi perhatian sebagai salah satu situs bersejarah yang menyimpan jejak panjang pengelolaan sumber daya air sejak masa kolonial Belanda.
Di balik rindangnya kawasan hutan, terdapat sumber air berupa sumur artesis yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dan hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat sekitar. Sumber air tersebut dikenal dengan nama Sumber Kurung, sebuah bangunan unik yang menjadi saksi sejarah perkembangan infrastruktur air di wilayah Kediri bagian timur.
Arif, pengelola sekaligus pemerhati sejarah kawasan Sumber Kurung Jengkol, menjelaskan bahwa nama Sumber Kurung berasal dari bentuk bangunan sumber mata air yang sengaja dibuat tertutup menyerupai bunker.
“Disebut Sumber Kurung karena sumber airnya memang dikurung atau ditempatkan di dalam bangunan seperti bunker. Tujuannya untuk melindungi mata air agar tetap aman dan bisa terus dimanfaatkan,” ujar Arif, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, bangunan tersebut tidak dibuat tanpa alasan. Secara teknis, pemerintah kolonial Belanda merancang Sumber Kurung untuk melindungi mata air dari dampak aktivitas Gunung Kelud yang sejak dahulu dikenal aktif.
“Bangunan ini dirancang agar sumber air tetap terlindungi dari longsor maupun abu vulkanik Gunung Kelud. Jadi meskipun terjadi bencana, aliran air masih bisa berjalan dan dimanfaatkan masyarakat,” jelasnya.
Lokasi yang saat ini sering dikunjungi wisatawan sebenarnya merupakan area sumur pompa. Sementara lokasi Sumber Kurung asli berada sekitar 300 meter di dalam kawasan hutan dan dapat dicapai dengan menyusuri jalur pipa peninggalan Belanda yang masih berfungsi hingga sekarang.
Pipa-pipa tersebut masih menyalurkan air ke sejumlah permukiman warga. Selain itu, bangunan sumur pompa dan konstruksi Sumber Kurung juga masih berdiri kokoh sebagai peninggalan sejarah kolonial yang belum banyak diketahui masyarakat luas.
Berdasarkan cerita turun-temurun warga sekitar, dahulu terdapat empat titik Sumber Kurung yang tersebar di kawasan hutan. Namun saat ini yang masih dapat ditemukan hanya Sumber Kurung 1 dan Sumber Kurung 4. Sementara titik lainnya dikabarkan telah tertimbun material longsor.
Pada masa kolonial, air dari Sumber Kurung dimanfaatkan sebagai sumber air minum masyarakat sekaligus menunjang kebutuhan operasional loji dan perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.
Menariknya, pabrik yang pernah berdiri di sekitar area itu bukan merupakan pabrik pengolahan tebu seperti yang banyak berkembang di Kediri saat ini.
“Dulu pabrik di kawasan ini mengolah ketela atau singkong dan serat nanas. Jadi sejarah industrinya berbeda dengan pabrik gula yang berkembang sekarang,” ungkap Arif.
Selain menyimpan sejarah kolonial, kawasan Sumber Kurung juga memiliki cerita rakyat yang masih dipercaya sebagian masyarakat. Di atas area sumber terdapat bangunan bunker lain yang dibangun warga setempat pada masa lalu.
Menurut cerita yang berkembang, bunker tersebut dibangun sebagai bentuk kewaspadaan masyarakat setelah adanya peristiwa keracunan yang terjadi di wilayah Cemetuk, Banyuwangi, pada tahun 1965. Warga saat itu khawatir sumber air mereka diracuni pihak luar sehingga membuat perlindungan tambahan di sekitar mata air.
Tak hanya kaya sejarah, kawasan Sumber Kurung juga menyimpan kekayaan alam yang masih terjaga. Di dalam hutan tumbuh berbagai jenis flora, termasuk tanaman Gimbi-Gimbi atau jelatang raksasa yang dikenal sebagai salah satu tanaman paling berbahaya karena memiliki bulu-bulu halus yang dapat menimbulkan rasa sakit luar biasa saat tersentuh.
Kawasan ini juga dipenuhi pohon aren yang jumlahnya disebut sebagai salah satu yang terbanyak di wilayah Kecamatan Plosoklaten.
Sementara dari sisi fauna, hutan Sumber Kurung masih menjadi habitat puluhan kera liar yang diperkirakan berjumlah sekitar 50 ekor. Satwa tersebut kerap terlihat turun dari kawasan hutan pada siang hari.
Arif menuturkan bahwa seluruh potensi sejarah dan alam yang dimiliki kawasan ini perlu terus dijaga agar dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Tempat ini bukan hanya menyimpan sejarah sumber air peninggalan Belanda, tetapi juga kekayaan flora dan fauna yang masih terjaga. Harapan kami, Sumber Kurung bisa terus berkembang sebagai sarana edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan alam,” pungkasnya.
Dengan keberadaan bangunan kolonial, jaringan pipa berusia puluhan tahun, cerita rakyat yang masih hidup, hingga ekosistem hutan yang tetap terjaga, Sumber Kurung Jengkol menjadi salah satu warisan sejarah dan lingkungan yang memiliki nilai penting bagi Kabupaten Kediri.
Jurnalis : Roni Ardiansyah



















Tinggalkan Balasan