




Tandaglobal.news | Kediri – Sejarah panjang Masjid Agung Kota Kediri tidak hanya tercermin dari bangunan yang berdiri megah di pusat kota, tetapi juga terekam dalam sejumlah prasasti yang masih terawat hingga kini.
Prasasti-prasasti tersebut menjadi bukti autentik perjalanan pembangunan masjid sekaligus perkembangan Islam di Kota Kediri dari masa ke masa.
Staf Sekretariat Masjid Agung Kota Kediri, Zaki, mengatakan sedikitnya terdapat tiga prasasti penting yang menjadi penanda sejarah, yakni Prasasti Joglo Masjid Induk, Prasasti Mimbar Masjid, dan Prasasti Marmer Lengkung yang berada di gerbang serambi serta pintu utama masjid.
“Prasasti-prasasti itu menjadi bukti sejarah berdirinya Masjid Agung Kota Kediri. Sampai sekarang masih kami jaga sebagai warisan untuk generasi mendatang,” ujar Zaki.
Prasasti Joglo Menandai Berdirinya Masjid Tahun 1771
Prasasti pertama berada di puncak joglo Masjid Induk lama. Pada prasasti tersebut tertulis bahwa Masjid Agung Kota Kediri didirikan pada tahun 1771 Masehi.
Prasasti ini menjadi acuan utama mengenai usia Masjid Agung Kota Kediri. Saat renovasi total yang berlangsung pada 2002 hingga 2006, bangunan joglo lama direlokasi ke Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren.
Kini bangunan tersebut ditempatkan di lantai dua Masjid Nurul Hidayah Banaran sebagai bentuk pelestarian sejarah.
Prasasti Mimbar Berhuruf Arab Pegon
Peninggalan sejarah berikutnya terdapat pada mimbar Masjid Agung Kota Kediri. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon yang menjelaskan waktu pembuatan mimbar.
Tulisan prasasti berbunyi:
“Kolo adegipun Mimbar Masjid Ageng ing Kadiri Saptu Pahing Wulan Hajji kaping 25 tahun Alif 1242 min hijrotin Nabi min Makkah ila Madinah Shollallahu ‘alaihi wasallam.”
Dalam bahasa Indonesia, tulisan tersebut berarti, “Saat didirikannya mimbar Masjid Agung di Kediri pada hari Sabtu Pahing, tanggal 25 bulan Haji (Dzulhijjah), tahun Alif 1242 Hijriah sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.”
Berdasarkan isi prasasti tersebut, mimbar Masjid Agung Kota Kediri dibuat pada tahun 1242 Hijriah. Hingga kini mimbar tersebut masih dipertahankan sebagai salah satu benda bersejarah yang masih digunakan dan menjadi bagian dari warisan sejarah masjid.
Prasasti Marmer Merekam Renovasi Tahun 1928
Selain prasasti joglo dan mimbar, Masjid Agung Kota Kediri juga memiliki prasasti marmer yang terpasang di gerbang serambi dan pintu utama masjid. Prasasti tersebut ditulis menggunakan aksara Jawa dan Arab Pegon.
Isi prasasti menjelaskan bahwa pembangunan atau pembaruan Masjid Agung Kota Kediri dimulai pada Rabu Wage, 6 Safar Tahun Alif 1859 atau bertepatan dengan 25 Juli 1928 atas prakarsa Kanjeng Raden Adipati Aryo Danuningrat, Bupati Kediri ke-8.
Dalam alih bahasa Indonesia, prasasti tersebut berisi doa agar masyarakat Kediri senantiasa diberi keimanan yang sempurna, dijauhkan dari perbuatan durhaka dan maksiat, serta selalu menaati petunjuk Allah SWT.
Keberadaan ketiga prasasti tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan Masjid Agung Kota Kediri tidak hanya tercatat dalam sejarah lisan, tetapi juga terdokumentasi melalui peninggalan fisik yang masih dapat disaksikan hingga saat ini.
Pengelola masjid terus menjaga keberadaan prasasti-prasasti tersebut sebagai bagian dari warisan sejarah Islam di Kota Kediri.
Selain memiliki nilai arkeologis, prasasti tersebut juga menjadi sumber informasi penting mengenai perkembangan Masjid Agung Kota Kediri sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-20.
“Prasasti ini bukan sekadar tulisan di atas batu atau kayu, tetapi menjadi saksi perjalanan sejarah yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada masyarakat,” tutup Zaki.




















Tinggalkan Balasan