
Tandaglobal.news | Kediri – SLB Dharma Wanita Pare menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari yang dimulai pada Senin (13/7/2026). Kegiatan ini difokuskan untuk membantu siswa baru berkebutuhan khusus beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal guru dan teman, serta membangun rasa aman dan nyaman sebelum mengikuti proses pembelajaran secara penuh.
Ketua Panitia MPLS, Dedhek, mengatakan jumlah peserta didik baru tahun ini relatif sama dengan tahun sebelumnya. Namun, karakteristik siswa mengalami perubahan. Jika pada tahun lalu mayoritas peserta didik baru merupakan anak tunagrahita, tahun ini sebagian besar merupakan anak dengan hambatan autisme.
Menurut Dedhek, tantangan utama selama pelaksanaan MPLS adalah membantu siswa autis mengelola emosi saat memasuki lingkungan baru. Tidak sedikit siswa yang menangis, berontak, ingin segera pulang, hingga menolak mengikuti kegiatan karena belum terbiasa dengan suasana sekolah.
“Adaptasi dan pengenalan lingkungan menjadi fokus utama kami selama pelaksanaan MPLS,” ujar Dedhek.
Untuk mendukung proses adaptasi tersebut, sekolah telah menyusun berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Hari pertama diawali dengan upacara pembukaan, pengenalan guru, teman, dan lingkungan sekolah. Pada hari kedua, siswa diajak mengenal ruang kelas, aula, kantor, serta mengikuti pemeriksaan kesehatan dan skrining bersama wali murid.
Pada hari ketiga, peserta didik mendapatkan materi pengenalan emosi sebagai bekal untuk membantu mereka mengenali dan mengendalikan perasaan. Hari keempat diisi dengan kegiatan olahraga, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah, serta simulasi tanggap bencana. Sementara pada hari terakhir, siswa diberi kesempatan menampilkan bakat melalui kegiatan unjuk minat, seperti bernyanyi dan berbagai aktivitas seni lainnya.
“Kami ingin setiap anak merasa aman, nyaman, dan siap mengikuti proses belajar di sekolah,” tambah Dedhek.
Selama MPLS berlangsung, guru melakukan pendekatan secara bertahap kepada setiap siswa sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun rasa percaya diri sehingga peserta didik lebih mudah bersosialisasi dan mengikuti proses pembelajaran setelah masa pengenalan lingkungan sekolah berakhir.
Dedhek menjelaskan bahwa selama MPLS seluruh orang tua diwajibkan mendampingi anak di sekolah. Pendampingan tersebut bertujuan membantu proses adaptasi sekaligus mempererat komunikasi antara orang tua dengan guru dan lingkungan sekolah. Ia berharap sinergi antara sekolah dan keluarga dapat terus terjalin sehingga pembiasaan yang diterapkan di sekolah dapat dilanjutkan di rumah demi mendukung perkembangan anak secara optimal.
Jurnalis: Roni Ardiansyah




















Tinggalkan Balasan