
(Foto: Dok.TGN/Intan Nur Aini)
Tandaglobal.news | Kediri — Usaha kuliner tradisional milik Santo dan Tukini yang berlokasi di sebelah utara Pasar Tiru, Desa Tiru Kidul, Kecamatan Gurah, menjadi salah satu sajian kuliner khas Kediri yang terus diminati pelanggan. Selama kurang lebih 13 tahun, keduanya konsisten menjajakan menu sederhana namun digemari banyak orang, yakni jenang campur dan es pisang ijo.
Usaha kuliner ini dikenal karena cita rasa yang tetap terjaga serta harga yang masih ramah di kantong. Untuk satu porsi es pisang ijo dijual seharga Rp7.000, sedangkan jenang campur dibanderol Rp6.000 per porsi.
Santo mengungkapkan, meski kondisi ekonomi dan harga bahan baku terus berubah, ia berusaha menjaga kualitas rasa sekaligus mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi pelanggan.
“Mempertahankan aja… yang penting bertahan rasa, pertahankan harga,” ujarnya.
Dalam sehari, usaha kuliner ini mampu menjual sekitar 150 hingga 160 porsi. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat pelanggan terhadap menu yang mereka sajikan setiap hari.
“Ya sekitar 150 sampai 160-an porsi,” kata Santo.

Namun demikian, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan besar bagi usaha mereka. Tidak hanya bahan utama makanan, harga kebutuhan pendukung seperti plastik kemasan juga ikut mengalami kenaikan signifikan.
“Sekarang ini semua mahal ya, semua bahan naik melambung. Plastik juga,” ungkapnya.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Santo dan Tukini belum berencana menambah variasi menu baru. Fokus utama mereka saat ini adalah mempertahankan kualitas menu yang sudah ada dan menjaga loyalitas pelanggan.
Usaha kuliner ini mulai buka sejak pukul 06.00 pagi dan biasanya dagangan sudah habis sekitar pukul 12.00 siang.
“Bukanya jam 6 pagi sampai habis, kurang lebih jam 12 siang,” jelasnya.
Konsistensi menjaga rasa, harga, dan kualitas pelayanan menjadi kunci utama usaha Santo dan Tukini tetap bertahan selama lebih dari satu dekade. Di tengah persaingan kuliner, usaha tradisional seperti ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner khas Kediri yang terus dijaga keberadaannya.
Keberadaan usaha kuliner tradisional seperti milik Santo dan Tukini juga mencerminkan peran penting pelaku UMKM dalam menjaga identitas kuliner daerah. Di tengah maraknya makanan modern, sajian sederhana seperti jenang campur dan es pisang ijo tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat karena nilai rasa dan nostalgia yang ditawarkan.
Selain itu, konsistensi dalam menjaga kualitas menjadi faktor utama yang membuat pelanggan terus kembali. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan usaha kuliner tidak hanya ditentukan oleh tren, tetapi juga oleh komitmen terhadap rasa, harga yang terjangkau, serta kedekatan dengan pelanggan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Penulis: Intan Nur Aini