Wisata Sumber Banteng Tawarkan Keindahan Alam, Air Berkhasiat, dan Tradisi Budaya yang Tetap Lestari

Wisata Sumber Banteng di Desa Tempurejo Kediri. (Foto: Dok.TGN/Intan Nur Aini)

Tandaglobal.news | Kediri — Wisata Sumber Banteng yang berlokasi di Desa Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, menjadi salah satu destinasi alam yang terus menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya menawarkan suasana sejuk dan alami, tempat ini juga menyimpan sejarah unik, sumber air eksklusif yang dipercaya berkhasiat, hingga tradisi budaya yang masih dijaga hingga kini.

Dalam wawancara bersama Ketua Wisata Sumber Banteng Sudarsono pada 20 Juni 2026, terungkap bahwa nama Sumber Banteng berasal dari sejarah kawasan tersebut yang dulunya merupakan hutan belantara dan menjadi habitat kawanan banteng.

“Dulu sini tempat berkumpul banteng, di sini banyak bantengnya, makanya sama warga dinamai Sumber Banteng,” ujar Sudarsono.

Menurutnya, pada masa lalu kawasan tersebut menjadi lokasi kawanan banteng untuk mencari makan, minum, hingga berkembang biak. Dari situlah masyarakat sekitar kemudian mengenal lokasi tersebut dengan nama Sumber Banteng.

Salah satu daya tarik utama wisata ini adalah keberadaan air eksklusif bernama Sumber Towo. Air ini dipercaya warga memiliki manfaat kesehatan dan sejak lama digunakan sebagai air yang diyakini mampu membantu penyembuhan berbagai penyakit.

Sumber Towo, air eksklusif yang layak uji klinik. (Foto: Dok.TGN/Intan Nur Aini)

“Air eksklusif Sumber Towo itu secara uji klinik sudah layak langsung diminum. Yang mengecek dari Graha Mutu Persada Mojokerto,” jelasnya.

Selain kekayaan sumber airnya, Wisata Sumber Banteng juga terus melengkapi fasilitas untuk kenyamanan pengunjung. Berbagai fasilitas umum tersedia, termasuk tempat ibadah dan jalur khusus bagi penyandang disabilitas.

Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati beragam wahana menarik seperti perahu, terapi ikan, memberi makan ikan, bermain dengan kelinci, hingga menyewa ATV.

Salah satu wahana menarik di Sumber Banteng, Pengalaman dalam naik perahu. (Foto: Dok.TGN/Intan Nur Aini)

“Untuk ibadah ada, jalur difabilitas juga ada. Bisa naik perahu, terapi ikan, ngasih pakan ikan, ada juga paket outbound, paket kemah, sampai ATV,” ungkap Sudarsono.

Baca Juga  Pembangunan Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri Capai 85,06 Persen, Seleksi Calon Siswa Masuki Tahap Penjangkauan

Pengelolaan wisata ini pun melibatkan masyarakat sekitar melalui sistem kerja yang terbagi menjadi dua, yakni pekerja harian dan sistem bagi hasil.

“Ada yang digaji harian dan ada kerja yang untuk hasil persenan,” katanya.

Sudarsono menambahkan, jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan terutama saat akhir pekan, hari libur nasional, dan musim liburan sekolah. Wahana bermain air menjadi salah satu magnet utama bagi keluarga yang datang.

Warung Kuliner di Sumber Banteng yang nyaman untuk istirahat. (Foto: Dok.TGN/Intan Nur Aini)

“Tiap akhir pekan atau hari libur itu banyak pengunjungnya, terutama pas hari libur anak-anak sekolah,” tuturnya.

Selain wisata alam, Sumber Banteng juga memiliki agenda budaya tahunan bernama Suro Agung, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Wangkalan yang digelar setiap bulan Suro atau sekitar Juli.

Acara tersebut menjadi wujud pelestarian budaya sekaligus sarana doa bersama untuk menghormati para leluhur.

“Bulan 7 ada agenda Suro Agung. Itu tradisi yang ada di lingkungan Wangkalan ini untuk mendoakan para leluhur,” jelasnya.

Menutup wawancara, Sudarsono menyampaikan harapannya agar kelestarian sumber mata air tetap terjaga dan pengelolaan wisata semakin berkembang sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas.

“Harapan saya ke depannya terutama di mata air, mudah-mudahan tetap lestari. Semoga wisata ini semakin maju dan berkembang, bermanfaat untuk warga sekitar dan untuk orang banyak,” pungkasnya.

Dengan perpaduan wisata alam, sumber air yang unik, fasilitas lengkap, serta budaya lokal yang tetap hidup, Sumber Banteng terus berkembang sebagai destinasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat nilai sejarah dan kearifan lokal.


Jurnalis di lapangan: Intan Nur Aini

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *