Mengintip 54 Koleksi Bersejarah dan Dua Masterpiece Unggulan Pasca Penataan Ulang Museum

Suasana ruang pamer museum yang kini semakin tertata dan menjadi destinasi edukasi favorit bagi pelajar serta masyarakat umum. (Dok. Maulana Rahmadha/ tandaglobalnews)

Tandaglobalnews KEDIRI – Wajah baru museum pasca penataan ulang berhasil menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya tampil lebih rapi dan modern, museum ini kini menjadi salah satu destinasi edukasi yang ramai dikunjungi oleh pelajar, guru, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan budaya.

Saat ini, museum menyimpan dan memajang sekitar 54 koleksi peninggalan sejarah yang berasal dari berbagai situs bersejarah di Kabupaten Kediri dan sekitarnya. Beragam artefak tersebut menjadi saksi perjalanan panjang peradaban masa lampau yang pernah berkembang di wilayah tersebut.

Dari puluhan koleksi yang dipamerkan, terdapat dua benda bersejarah yang menjadi masterpiece atau koleksi unggulan museum. Kedua koleksi tersebut adalah Kepala Bodhisattva dari Situs Adan-Adan serta Siwa Catur Muka dari Situs Tondowonso.

Kepala Bodhisattva merupakan artefak bercorak Buddha yang memiliki nilai sejarah dan artistik tinggi. Sementara Siwa Catur Muka menjadi koleksi istimewa karena menggambarkan Dewa Siwa dengan empat wajah yang memiliki makna filosofis mendalam dalam tradisi Hindu kuno.

Selain dua koleksi unggulan tersebut, museum juga menyimpan peninggalan yang diperkirakan menjadi koleksi tertua yang berasal dari Situs Sumber Cangkring. Berdasarkan corak dan karakteristik artefaknya, peninggalan tersebut diduga berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang di Pulau Jawa sekitar abad VIII hingga X Masehi.

Penataan ulang museum juga menghadirkan sejumlah koleksi terbaru yang baru dipamerkan kepada publik sebagai sampel. Koleksi-koleksi tersebut merupakan hasil penyelamatan benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Adan-Adan dan Kecamatan Gurah.

Pengelola museum menjelaskan bahwa sejumlah koleksi ditempatkan di dalam kotak kaca khusus sebagai bagian dari sistem pengamanan. Langkah ini dilakukan karena benda-benda tersebut memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dan sebagian masih dalam kondisi relatif utuh.

Berita Terkait  Ratusan Personel Gabungan Kawal Pengesahan Warga Baru PSHT di Sempu, Situasi Tetap Kondusif

“Penempatan di dalam kotak kaca merupakan bagian dari upaya perlindungan koleksi agar tetap terjaga keasliannya dan tidak mengalami kerusakan akibat sentuhan langsung maupun faktor lingkungan,” jelas pihak pengelola.

Pasca penataan ulang, jumlah pengunjung museum mengalami peningkatan signifikan. Sebagian besar pengunjung datang untuk tujuan edukasi, terutama rombongan siswa dan guru dari berbagai sekolah. Selain itu, banyak masyarakat umum yang tertarik mengunjungi museum karena tata ruang, estetika penyajian koleksi, serta pengelolaan museum yang dinilai semakin baik.

Untuk mendukung kenyamanan pengunjung, museum membuka layanan kunjungan setiap hari Selasa hingga Minggu. Sementara setiap hari Senin museum ditutup untuk kegiatan perawatan dan pembersihan menyeluruh guna menjaga kualitas koleksi maupun fasilitas pendukung.

Dengan penataan yang lebih modern serta koleksi yang semakin tertata, museum diharapkan dapat menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus sarana pelestarian warisan budaya yang dapat dinikmati oleh generasi masa kini maupun mendatang.

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *