Renovasi besar tersebut diawali dengan peletakan batu pertama pada 29 April 2002 yang dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, M.A. Setelah proses pembangunan selesai, Masjid Agung Kota Kediri diresmikan penggunaannya pada 9 Februari 2006 oleh Wali Kota Kediri saat itu, Drs. H. A. Maschut.

Tak hanya mempertahankan bangunan lama, pengelola juga menjaga berbagai peninggalan sejarah lainnya.

Sejumlah prasasti, ukiran kayu, hingga naskah beraksara Pegon masih tersimpan dengan baik sebagai bukti perjalanan panjang perkembangan Islam di Kota Kediri.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Kota Kediri juga berkembang menjadi pusat pendidikan dan syiar Islam.

Kehadiran perpustakaan yang mulai dikembangkan sejak 2010 menjadi salah satu upaya untuk memperkuat fungsi masjid sebagai pusat literasi keagamaan.

Lebih dari dua setengah abad berlalu, Masjid Agung Kota Kediri tetap berdiri kokoh di pusat kota.

Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, bangunan bersejarah ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai simbol perkembangan Islam sekaligus warisan budaya yang memiliki nilai historis tinggi.

Bagi masyarakat Kota Kediri, Masjid Agung Kota Kediri bukan hanya menjadi tempat untuk menunaikan ibadah, tetapi juga pengingat akan perjalanan panjang para ulama dan pendahulu yang membangun peradaban Islam di kota ini.

Setiap prasasti, ukiran, maupun bangunan lama yang masih dipertahankan menjadi saksi bisu bagaimana sejarah terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan usia yang kini telah mencapai sekitar 255 tahun, Masjid Agung Kota Kediri terus menjadi salah satu ikon sejarah yang memperlihatkan bahwa nilai-nilai keagamaan, budaya, dan sejarah dapat tetap lestari di tengah perkembangan zaman.