Sementara program mahasiswa dirancang berlangsung selama dua tahun, program dosen melalui PDB memiliki durasi pendampingan selama tiga tahun.
Agus menilai keberlanjutan program sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak.
Tidak hanya perguruan tinggi, tetapi juga pemerintah desa, dinas terkait, masyarakat, serta komunitas yang telah terbentuk perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
“Keberlanjutan ini membutuhkan sinergi antara kampus, pemerintah desa, dinas terkait, dan komunitas. Semua potensi yang sudah ada harus kita hubungkan dalam satu track atau paket ekowisata,” ucapnya.
Dia menuturkan, pengembangan paket wisata juga dapat diperluas melalui kerja sama dengan pihak luar.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah mengintegrasikan paket ekowisata Desa Tempurejo dengan layanan penginapan atau paket perjalanan dari sektor perhotelan.
Kerja sama semacam itu dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk dan destinasi wisata desa.
Wisatawan yang menginap di hotel nantinya dapat ditawarkan paket kunjungan ke berbagai potensi ekowisata yang ada di Desa Tempurejo.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan ekowisata diharapkan tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata desa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai sektor lokal, mulai dari wisata, pertanian, peternakan hingga produk masyarakat, dapat ikut bergerak dan mendapatkan manfaat.
Program kolaborasi tersebut sekaligus menjadi upaya untuk membangun kemandirian desa dengan memanfaatkan potensi yang telah dimiliki masyarakat.
Pendampingan dari perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat sehingga ekowisata Tempurejo mampu berkembang secara berkelanjutan.




















Tinggalkan Balasan