KEDIRI, Tandaglobal.news — Pengembangan potensi Desa Tempurejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, terus didorong melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa. Salah satu fokusnya adalah mengintegrasikan berbagai potensi lokal menjadi sebuah ekosistem ekowisata yang berkelanjutan.
Kegiatan launching pengembangan Desa Tempurejo sebagai Desa Ekowisata Mandiri dan Berkelanjutan merupakan bagian dari program yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh Tim PPK Ormawa HIMABIO Helianthus Universitas Nusantara PGRI Kediri Tahun 2026 melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).
Program tersebut diselenggarakan dan didanai oleh Belmawa Dikti Kemendikbudristek.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Tempurejo, Sabtu (15/8/2026).
Wakil Rektor III Bidang Penelitian, Pengabdian Masyarakat dan Inovasi, Agus Muji Santoso, mengatakan, program tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai potensi yang telah dimiliki masyarakat Desa Tempurejo.
Menurutnya, pengembangan desa tidak cukup hanya mengandalkan satu objek wisata.

Karena itu, berbagai sektor seperti pariwisata, ketahanan pangan, peternakan, hingga potensi hutan perlu diintegrasikan agar saling mendukung.
“Yang kita lakukan adalah connecting seluruh potensi yang ada di Desa Tempurejo. Harapannya, semua potensi tersebut bisa terintegrasi dan membentuk ekosistem ekowisata desa,” jelasnya.
Dalam program tersebut, PPK Ormawa mengambil peran dalam merintis sektor Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Sementara program pengabdian dosen melalui PDB diarahkan pada sektor ketahanan pangan, seperti pembuatan pupuk cair dan padat serta pengembangan pakan ternak.
Berbagai kegiatan tersebut kemudian diarahkan untuk menjadi bagian dari paket ekowisata.
Dengan konsep tersebut, wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk menikmati satu daya tarik, seperti sumber air Jembangan, tetapi dapat memperoleh pengalaman dengan mengunjungi berbagai potensi yang ada di desa.
Tahapan pengembangan juga dilakukan secara bertahap.
Pada tahun pertama, program mahasiswa difokuskan melalui Sekolah Hutan, yakni kegiatan untuk mengeksplorasi dan mengenali berbagai potensi yang berada di kawasan hutan.
Memasuki tahun kedua, hasil eksplorasi tersebut akan dikembangkan lebih lanjut dan dikemas dalam bentuk kegiatan ekowisata.
Sementara program mahasiswa dirancang berlangsung selama dua tahun, program dosen melalui PDB memiliki durasi pendampingan selama tiga tahun.
Agus menilai keberlanjutan program sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak.
Tidak hanya perguruan tinggi, tetapi juga pemerintah desa, dinas terkait, masyarakat, serta komunitas yang telah terbentuk perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
“Keberlanjutan ini membutuhkan sinergi antara kampus, pemerintah desa, dinas terkait, dan komunitas. Semua potensi yang sudah ada harus kita hubungkan dalam satu track atau paket ekowisata,” ucapnya.
Dia menuturkan, pengembangan paket wisata juga dapat diperluas melalui kerja sama dengan pihak luar.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah mengintegrasikan paket ekowisata Desa Tempurejo dengan layanan penginapan atau paket perjalanan dari sektor perhotelan.
Kerja sama semacam itu dinilai dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk dan destinasi wisata desa.
Wisatawan yang menginap di hotel nantinya dapat ditawarkan paket kunjungan ke berbagai potensi ekowisata yang ada di Desa Tempurejo.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan ekowisata diharapkan tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata desa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Berbagai sektor lokal, mulai dari wisata, pertanian, peternakan hingga produk masyarakat, dapat ikut bergerak dan mendapatkan manfaat.
Program kolaborasi tersebut sekaligus menjadi upaya untuk membangun kemandirian desa dengan memanfaatkan potensi yang telah dimiliki masyarakat.
Pendampingan dari perguruan tinggi diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat sehingga ekowisata Tempurejo mampu berkembang secara berkelanjutan.




















Tinggalkan Balasan