
Tandaglobal.news | Pasuruan — Sebuah kisah berlatar Pabrik Gula (PG) Kedawung, Kabupaten Pasuruan, kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026).
Cerita tersebut mengambil latar tahun 1913 dan mengisahkan dilema seorang administratur Belanda yang menghadapi pilihan antara menjalankan aturan perusahaan atau mempertimbangkan sisi kemanusiaan seorang buruh.
Dalam narasi yang beredar, PG Kedawung digambarkan sebagai salah satu pabrik gula yang menerapkan aturan kerja secara ketat pada masa kolonial.
Setiap pelanggaran kerja, termasuk ketidakhadiran tanpa izin, disebut dapat dikenai sanksi berupa pemotongan upah sesuai ketentuan perusahaan.
Tokoh utama dalam cerita tersebut adalah Willem van der Velde, seorang administratur pabrik yang sedang memeriksa laporan kehadiran para buruh.
Perhatiannya kemudian tertuju pada nama Sastro, seorang buruh ketel uap yang tercatat tidak masuk kerja selama satu hari tanpa keterangan resmi.
Menurut laporan mandor, ketidakhadiran Sastro bukan disebabkan kelalaian bekerja, melainkan karena harus merawat anaknya yang mengalami demam tinggi dan kejang.
Namun alasan tersebut disebut tidak termasuk dalam pengecualian aturan perusahaan yang berlaku.
“Menurut aturan, upahnya harus dipotong,” demikian ucapan Van der Velde kepada Mandor Wiryo sebagaimana dikisahkan dalam narasi tersebut.
Mandor Wiryo disebut menerima penjelasan itu tanpa membantah dan hanya menyampaikan kondisi anak Sastro yang masih kritis.
“Anaknya masih hidup, Meneer. Tapi lemah,” jawab Wiryo dalam cerita tersebut.
Narasi kemudian menggambarkan Van der Velde teringat pada pengalaman pribadinya ketika anaknya pernah dirawat karena sakit tifus.
Saat itu, ia disebut dapat meninggalkan pekerjaan selama beberapa hari tanpa kehilangan penghasilan.
Pengalaman tersebut membuat Van der Velde mulai mempertanyakan perbedaan perlakuan antara dirinya sebagai pejabat pabrik dan para buruh.
Setelah mempertimbangkan keadaan Sastro, Van der Velde dikisahkan tidak langsung menerapkan sanksi sesuai aturan perusahaan.
Ia justru menuliskan catatan pada laporan agar upah Sastro tetap dibayarkan dengan alasan kondisi kesehatan keluarga.
“Mangkir karena alasan kesehatan keluarga. Upah tetap dibayar. Tapi tidak dijadikan kebiasaan,” tulis Van der Velde sebagaimana dikisahkan dalam cerita yang beredar.
Pada malam harinya, Van der Velde disebut mendengar suara gamelan dari kawasan permukiman buruh setelah anak Sastro berhasil melewati masa kritis.
Peristiwa tersebut menjadi penutup kisah yang menampilkan nilai kemanusiaan di tengah sistem kerja industri gula kolonial yang ketat.
Kisah itu menggambarkan bahwa di balik perkembangan industri gula pada masa kolonial terdapat berbagai dilema yang dihadapi oleh orang-orang di dalamnya.
Meski berlatar lingkungan pabrik dan melibatkan tokoh berkebangsaan Belanda, cerita tersebut lebih menyoroti keputusan pribadi yang didasarkan pada empati terhadap kondisi seorang buruh.
Hingga kini, belum ditemukan arsip sejarah yang dapat memverifikasi keberadaan tokoh Willem van der Velde maupun peristiwa tersebut sebagai kejadian faktual.
Oleh karena itu, kisah ini lebih tepat dipandang sebagai narasi sejarah atau cerita human interest berlatar industri gula kolonial yang mengangkat nilai kemanusiaan di tengah sistem yang kaku.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan