
TandaGlobal.news | KEDIRI – Penyesuaian harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku sejak awal Juli 2026 mendapat perhatian masyarakat. Di SPBU Puringan Krenceng, Kecamatan Kepung, penurunan harga tersebut dinilai menjadi angin segar bagi pengguna BBM non-subsidi, meski konsumsi masyarakat hingga kini masih didominasi BBM bersubsidi.
Manager SPBU Puringan Krenceng, Widodo, Jumat (3/7/2026), menjelaskan bahwa di SPBU yang dikelolanya hanya tersedia produk Pertamina Dex untuk kategori solar non-subsidi. Meski demikian, pihaknya juga mengetahui adanya penyesuaian harga pada produk non-subsidi lainnya, seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Avtur, berdasarkan informasi resmi dari Pertamina.
Berdasarkan penyesuaian harga tersebut, Pertamax Turbo turun sekitar 7 persen dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex mengalami penurunan sekitar 15 persen dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter. Adapun Dexlite turun sekitar 14 persen dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan harga Avtur untuk penerbangan domestik juga turun sekitar 14 persen dari Rp22.190 menjadi Rp19.190 per liter. Penyesuaian harga tersebut berlaku untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen.
Widodo mengatakan, penurunan harga Pertamina Dex mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2026. Menurutnya, selisih harga yang mencapai lebih dari Rp3.000 per liter cukup terasa bagi pelanggan yang rutin menggunakan BBM diesel non-subsidi.
“Di SPBU kami hanya menjual Pertamina Dex untuk solar non-subsidi. Penurunannya sekitar tiga ribuan rupiah per liter dan mulai berlaku sejak tanggal 1. Untuk Pertamax Turbo maupun Dexlite memang tidak tersedia di sini, tetapi kami mengetahui kisaran penyesuaian harganya berdasarkan informasi resmi dari Pertamina,” ujar Widodo.
Meski harga BBM non-subsidi mengalami penurunan, Widodo mengakui antusiasme masyarakat masih lebih besar terhadap BBM bersubsidi. Menurutnya, faktor harga menjadi pertimbangan utama konsumen sehingga penjualan Pertalite tetap mendominasi dibandingkan produk Pertamax Series maupun Pertamina Dex.
Ia juga mengungkapkan, beberapa waktu lalu sempat terjadi peningkatan konsumsi Pertalite akibat perpindahan pengguna dari BBM non-subsidi. Kondisi tersebut bahkan sempat menyebabkan stok Pertalite habis. Namun, hal itu dipastikan bukan karena kelangkaan, melainkan akibat keterlambatan distribusi. Saat ini, pasokan Pertalite di SPBU Puringan Krenceng telah kembali normal.
“Naik turunnya harga BBM non-subsidi mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Kami di SPBU hanya menjalankan kebijakan yang ditetapkan dari pusat. Untuk Pertalite sekarang stoknya sudah aman dan kembali normal,” tambahnya.
Widodo berharap penurunan harga BBM non-subsidi dapat memberikan pilihan yang lebih luas bagi masyarakat sesuai kebutuhan kendaraan masing-masing. Namun, ia menilai pola konsumsi masyarakat masih akan dipengaruhi oleh daya beli, sehingga BBM bersubsidi diperkirakan tetap menjadi pilihan utama selama selisih harga dengan BBM non-subsidi masih cukup signifikan.
Jurnalis: J. Mada