Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin. (Dok. TGN/Wildan Wahid Hasyim)

Tandaglobal.news | Kediri — Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri terus mengintensifkan penjangkauan terhadap anak-anak yang belum melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Upaya tersebut dilakukan karena pada tahun ajaran 2026/2027 masih tersedia sekitar 800 hingga 1.000 kursi kosong di sejumlah SMP negeri.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengatakan kekurangan peserta didik tersebut sebagian besar terjadi di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran.

“Kami masih kekurangan sekitar 800 sampai 1.000 siswa. Di antaranya terdapat di SMPN 2 Papar, beberapa sekolah di wilayah Kras, Semen 2, Kandangan 2, Plosoklaten 3, Plemahan 2 hingga Purwoasri,” kata Muhsin.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi masih tingginya minat masyarakat untuk mendaftarkan anak ke sekolah yang dianggap favorit. Akibatnya, sejumlah sekolah menerima pendaftar jauh melebihi kuota, sementara sekolah lain masih memiliki banyak kursi kosong.

Muhsin mencontohkan SMPN 1 Ngasem dan SMPN 2 Ngasem yang setiap tahun mengalami kelebihan pendaftar.

“Kalau masyarakat mau berbagi ke sekolah-sekolah terdekat sebenarnya tidak akan terjadi penumpukan. Di Ngasem misalnya ada cukup banyak siswa yang tidak tertampung karena kuotanya sudah penuh,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri mengoptimalkan Program Home Visit Cegah Anak Tidak Sekolah (ATS). Melalui program ini, guru bersama tenaga kependidikan mendatangi langsung rumah anak-anak yang belum melanjutkan pendidikan.

Selain melakukan pendataan, petugas juga mencari penyebab anak tidak bersekolah, mulai dari kendala ekonomi, keterbatasan akses transportasi hingga kurangnya informasi mengenai sekolah yang masih memiliki kuota.

“Kami sedang melakukan penjangkauan kembali. Semua guru dan tenaga kependidikan bergerak menyisir anak-anak yang belum mendapatkan sekolah, baik negeri maupun swasta,” ungkap Muhsin.

Program tersebut mulai membuahkan hasil. Dalam sejumlah kunjungan, tim menemukan beberapa anak berprestasi yang belum melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya.

“Ada anak yang ranking satu saat SD tetapi belum melanjutkan sekolah karena alasan biaya. Setelah ditemukan melalui home visit, akhirnya bisa masuk SMPN 1 Plemahan,” ujarnya.

Muhsin menambahkan, Dinas Pendidikan juga melibatkan para siswa dalam pendataan anak yang belum bersekolah. Peserta didik diminta melaporkan apabila mengetahui teman sebaya yang belum memperoleh akses pendidikan.

“Kami ingin memastikan tidak ada anak usia sekolah di Kabupaten Kediri yang tertinggal dari akses pendidikan. Jika ada yang belum sekolah, akan kami jemput dan carikan sekolah yang masih memiliki kuota,” tegasnya.

Melalui langkah tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri berharap seluruh anak usia sekolah dapat memperoleh hak pendidikan yang layak sekaligus menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kediri.


Jurnalis: Wildan Wahid Hasyim