Tandaglobal.news | KEDIRI – Ratusan siswa Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Kediri mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi bagian dari masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) untuk memetakan kondisi kesehatan siswa sebelum menjalani pendidikan berasrama.
Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri, Fadeli, menegaskan bahwa CKG tidak digunakan sebagai dasar seleksi maupun penolakan siswa. Pemeriksaan tersebut semata-mata bertujuan mengetahui kondisi kesehatan dan tingkat kebugaran peserta didik agar sekolah dapat memberikan pendampingan yang tepat.
“CKG ini bukan untuk menyeleksi siswa. Tujuannya hanya memetakan kondisi kesehatan anak-anak. Kalau ditemukan ada masalah kesehatan, itu justru menjadi dasar pembinaan dan pendampingan ke depan,” ujar Fadeli.
Menurutnya, rangkaian CKG terdiri atas tes kebugaran dan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Untuk tes kebugaran, siswa menjalani aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Sementara itu, pemeriksaan kesehatan meliputi berbagai aspek, mulai dari kesehatan mulut hingga pemeriksaan dasar lainnya.
Fadeli mencontohkan, pada tahun sebelumnya banyak siswa yang ditemukan memiliki masalah kesehatan gigi. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar sekolah untuk memberikan perhatian khusus agar kondisi kesehatan siswa semakin baik selama menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
“Kalau ditemukan giginya bermasalah, ya itu yang kita tangani. Jadi hasil CKG menjadi peta untuk pembinaan kesehatan anak, bukan untuk menggugurkan mereka dari Sekolah Rakyat,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, apabila ditemukan siswa yang memiliki penyakit menular, sekolah akan melakukan karantina dan pengobatan terlebih dahulu. Setelah dinyatakan sembuh, siswa tetap berhak mengikuti pendidikan seperti peserta didik lainnya.
“Kalau ada penyakit menular, ya dikarantina dan diobati sampai sembuh. Setelah itu tetap gabung belajar. Tidak ada istilah ditolak karena hasil pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Lebih lanjut, Fadeli mengungkapkan sistem penerimaan siswa di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah reguler. Sekolah tidak membuka pendaftaran umum, melainkan melakukan penjangkauan langsung kepada calon siswa dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan data pemerintah.
“Kita bukan menerima pendaftaran siswa, tetapi menjangkau mereka. Kita yang datang ke rumah-rumah bersama pendamping sosial untuk memastikan anak-anak yang berhak mendapatkan layanan pendidikan ini bisa sekolah,” jelasnya.
Selain fokus pada kesehatan fisik, Sekolah Rakyat juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang harus tinggal di asrama. Menurut Fadeli, rasa rindu keluarga atau homesick merupakan hal yang wajar, terutama bagi siswa baru.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, sekolah menerapkan pola pendampingan intensif. Setiap siswa dipastikan selalu memiliki aktivitas yang terarah dan didampingi guru maupun pengasuh.
“Kami punya prinsip, tidak semenit pun anak tanpa kegiatan dan tidak sedetik pun kegiatan tanpa pendampingan. Dengan begitu anak-anak tetap aktif, terpantau, dan merasa nyaman berada di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Selain itu, guru diminta meluangkan waktu secara khusus untuk membangun kedekatan dengan siswa. Pendekatan personal dilakukan agar anak-anak memiliki tempat bercerita ketika menghadapi persoalan selama tinggal di asrama.
“Guru tidak boleh hanya mengajar lalu selesai. Mereka harus mengenal anak-anak secara personal. Ketika ada anak yang menyendiri atau terlihat berbeda, itu langsung kita dekati dan dampingi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang, menjelaskan bahwa CKG merupakan program rutin nasional yang dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada awal tahun ajaran baru.
Menurutnya, pemeriksaan dimulai dengan tes kebugaran untuk mengukur kondisi fisik siswa, kemudian dilanjutkan dengan skrining kesehatan sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
“Kegiatan ini untuk memetakan faktor risiko kesehatan siswa. Dari hasil itu nanti bisa diketahui mana yang perlu pemantauan lebih lanjut atau pemeriksaan lanjutan,” jelas dr. Bambang.
Ia mengingatkan, siswa yang tinggal di lingkungan Sekolah Rakyat perlu mewaspadai penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengingat lokasi sekolah berada di area yang masih mengalami aktivitas pembangunan dan kondisi cuaca yang cukup ekstrem.
“Siang hari panas, malam hari dingin, ditambah kondisi berdebu. Situasi seperti ini bisa memicu ISPA, influenza, batuk pilek, maupun alergi. Karena itu anak-anak harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” katanya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri juga mengimbau siswa menjaga pola makan, istirahat yang cukup, rajin mencuci tangan, serta menggunakan masker apabila mengalami gejala penyakit menular.
Di sisi lain, salah satu siswa Sekolah Rakyat, Ahmad Rizky Ramadhan, asal Desa Manyakan, Kecamatan Kandat, mengaku senang mengikuti berbagai kegiatan di sekolah barunya.
Meski belum mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya, remaja berusia hampir 16 tahun itu merasa nyaman tinggal di asrama dan menikmati suasana baru bersama teman-teman dari berbagai daerah.
“Senang. Banyak teman,” ucap Ahmad singkat.
Baginya, lingkungan asrama dan kesempatan berinteraksi dengan banyak teman baru menjadi pengalaman yang paling menyenangkan selama mengikuti kegiatan di Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri.




















Tinggalkan Balasan