


Tandaglobal.news | Kediri – Memasuki musim kemarau, penjualan layangan di Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, kembali mengalami peningkatan. Beragam jenis layangan mulai diburu masyarakat, mulai dari layangan untuk anak-anak hingga layangan turnamen yang digunakan dalam adu sambitan.
Dalam adu sambitan, pemain mengadu benang layangan hingga salah satu benang terputus dan layangannya kalah. Jenis permainan ini menjadi salah satu daya tarik bagi para penghobi layangan saat musim kemarau.
Penjual layangan, Narko, mengatakan permintaan layangan selalu meningkat saat musim kemarau. Mayoritas pembeli justru berasal dari kalangan dewasa yang hobi bermain layangan, meski anak-anak juga masih menjadi pelanggan, terutama untuk jenis layangan standar dan layangan sayur.
“Musim layangan biasanya sekitar empat bulan saat kemarau. Yang paling banyak dicari sekarang justru layangan turnamen dengan lilitan dua,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Narko, rangka layangan dibuat menggunakan bambu biasa dan bambu petung. Layangan berbahan bambu petung memiliki kualitas lebih baik sehingga dijual dengan harga lebih tinggi dibandingkan layangan berbahan bambu biasa.
Secara umum, layangan dibagi menjadi tiga jenis, yakni layangan sayur, layangan standar, dan layangan turnamen. Layangan sayur biasanya dijual Rp1.500 hingga Rp2.000 untuk anak-anak, sedangkan layangan standar berkisar hingga Rp4.000. Sementara layangan turnamen dijual mulai Rp4.000 hingga Rp8.000, tergantung bahan dan teknik rakitannya.
Selain layangan, benang juga menjadi komponen penting yang banyak dicari. Narko menjelaskan ukuran benang yang paling diminati di wilayahnya adalah ukuran 0,22 karena dinilai memiliki keseimbangan antara ketajaman dan kekuatan. Sementara untuk turnamen, sebagian pemain memilih ukuran 0,18 yang lebih tajam.
Kondisi angin di wilayah Kediri juga memengaruhi gaya bermain masyarakat. Sebagian besar pemain lebih menyukai teknik ulur atau los-losan dibanding teknik jebret karena angin cenderung berubah-ubah sehingga lebih cocok menggunakan benang yang lentur.
“Penjualan layangan sangat bergantung pada musim. Kalau sudah masuk musim hujan, biasanya penjualan berhenti total karena hampir tidak ada yang bermain layangan,” tambah Narko.
Ia berharap cuaca selama musim kemarau tetap mendukung sehingga para penghobi layangan dapat terus menikmati hobinya, sekaligus membantu meningkatkan pendapatan para pedagang layangan yang mengandalkan penjualan musiman setiap tahunnya.




















Tinggalkan Balasan