KEDIRI, TandaGlobalNews–Pergerakan harga ternak di Pasar Sapi Pare, Kabupaten Kediri menunjukkan kondisi berbeda antara sapi dan kambing. Ketika harga sapi mengalami kenaikan hingga beberapa juta rupiah per ekor, harga kambing justru tertekan akibat melimpahnya pasokan. Kondisi tersebut dirasakan Wawan, pedagang sapi sekaligus kambing di Pasar Sapi Pare, Jumat (30/10/2026).

Wawan mengatakan kenaikan harga sapi terjadi pada berbagai jenis, termasuk sapi Peranakan Ongole (PO), limosin, dan simental. Menurutnya, harga sapi meningkat setelah Iduladha, ketika permintaan tinggi sementara ketersediaan ternak di pasaran terbatas.

Ia memberikan contoh, sapi yang sebelumnya bisa dijual sekitar Rp21 juta kini mencapai Rp25 juta per ekor. Sementara sapi yang sebelumnya berada di kisaran Rp23 juta kini dapat ditawarkan hingga sekitar Rp30 juta, bergantung pada kondisi dan jenis ternaknya.

Sebaliknya, harga kambing justru melemah karena jumlah ternak yang tersedia dinilai melimpah. Wawan menyebut kambing betina yang sebelumnya dapat mencapai Rp1,7 juta kini hanya sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Harga kambing indukan untuk pembibitan juga mengalami penurunan tajam.

“Sekarang sapi justru naik, sedangkan harga kambing turun karena stoknya melimpah. Kondisi seperti ini memang bisa berganti mengikuti siklus pasar,” jelasnya.

Menurut Wawan, perubahan harga tersebut berkaitan dengan perbedaan ketersediaan ternak dan pola permintaan masyarakat. Kenaikan harga sapi terjadi ketika pasokan berkurang, sedangkan harga kambing tertekan saat jumlah ternak di pasaran lebih banyak daripada permintaan.

Kondisi harga sapi yang tinggi membuat Wawan memilih tidak menyimpan stok sapi. Ia lebih memilih mendapatkan ternak dari peternak untuk kemudian langsung dibawa ke pasar. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari biaya pakan yang dapat membengkak jika sapi harus dipelihara lebih lama sebelum terjual.

Sementara untuk kambing, Wawan masih melakukan pemotongan setiap hari dengan jumlah yang menyesuaikan kebutuhan pasar. Ia juga mengembangkan penjualan daging kambing karena dinilai memiliki perputaran lebih cepat daripada menjual ternak hidup dalam situasi harga yang sedang turun.

“Kalau harus menyimpan sapi, biaya pakannya cukup besar. Jadi, saya lebih memilih mengambil dari peternak ketika ada pembeli atau kebutuhan pasar,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah turut memperhatikan keseimbangan pasokan dan kestabilan harga ternak. Menurutnya, kebijakan yang tepat diperlukan agar perubahan harga tidak terlalu membebani pelaku usaha di tingkat pedagang maupun peternak.

Ia memperkirakan harga kambing belum akan pulih dalam waktu dekat. Meski demikian, permintaan pada momen tertentu, seperti menjelang Idulfitri, berpotensi mendorong kenaikan harga. Untuk sementara, pedagang perlu menyesuaikan strategi penjualan dengan kondisi pasar dan kemampuan menanggung biaya pemeliharaan ternak.

Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto