Medan, Tandaglobal.news PT Nusira merupakan salah satu perusahaan yang tercatat dalam sejarah industri pengolahan karet remah (crumb rubber) di Sumatera Utara. Perusahaan ini berlokasi di kawasan Timbang Deli, Medan Amplas, dan kemudian menjadi bagian dari jaringan perusahaan pengolahan karet Kirana Megatara Group.

Perjalanan PT Nusira memiliki sejarah yang cukup panjang. Dokumen akademik Universitas Medan Area mencatat perusahaan didirikan pada Januari 1969 berdasarkan Akta Notaris Muhammad Ali Nomor 11. Sementara catatan resmi Kirana Megatara mencatat Nusira mulai beroperasi pada 1983 sebagai pabrik pengolahan karet remah. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tahun pendirian perusahaan dan awal operasi pabrik merupakan dua hal yang berbeda.

Berawal dari Kerja Sama Indonesia-Amerika

Menurut penelitian Universitas Medan Area, PT Nusira pada awalnya merupakan perusahaan kerja sama yang diprakarsai oleh Nurub dari Amerika Serikat dan Syamsir Rahman dari Indonesia.

Nama Nusira disebut berasal dari penggabungan nama kedua pihak tersebut, yaitu Nurub-Samsir Rahman. Perusahaan didirikan pada Januari 1969 dengan lokasi di Jalan Pertahanan No. 70A, Timbang Deli, kawasan Medan. Luas areal perusahaan dalam dokumen akademik tersebut disebut sekitar 4 hektare.

Keterangan mengenai asal-usul nama tersebut berasal dari penelitian akademik sehingga perlu dibedakan dari informasi korporasi terkini yang lebih banyak mencatat sejarah operasional pabrik.

Mulai Mengolah Karet

Dokumen Universitas Medan Area mencatat PT Nusira mulai memproduksi Standard Indonesian Rubber (SIR) 20 pada awal Januari 1970. Penelitian tersebut menyebut produksi pada masa awal mencapai sekitar 750 ton per bulan dan kemudian meningkat seiring perkembangan perusahaan.

Namun, sumber resmi Kirana Megatara menggunakan tahun 1983 sebagai tahun mulai operasi PT Nusira. Catatan tersebut juga menyebut Nusira sebagai pabrik crumb rubber dengan kode perdagangan SAD.

Karena terdapat perbedaan pencatatan historis, tahun 1970 lebih tepat disebut sebagai tahun mulai produksi menurut sumber akademik, sedangkan 1983 merupakan tahun mulai operasi yang digunakan dalam catatan korporasi Kirana Megatara.

Berlokasi di Timbang Deli, Medan

Sejak periode awal, kegiatan PT Nusira berkaitan dengan kawasan Timbang Deli.

Direktori industri BPS Sumatera Utara mencatat Nusira Cabang Medan sebagai industri dengan produk utama SIR 20. Alamatnya tercatat di Jalan Pertahanan No. 70A, Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas.

Lokasi tersebut menjadi bagian dari kawasan industri pengolahan karet di Medan yang berkembang karena kedekatannya dengan sumber bahan baku serta jaringan perdagangan komoditas karet Sumatera.

Mengolah Karet Menjadi Crumb Rubber

Kegiatan utama PT Nusira adalah mengolah bahan baku karet alam menjadi karet remah (crumb rubber).

Dalam perkembangan operasionalnya, perusahaan memproduksi beberapa jenis karet remah, yaitu SIR 10, SIR 20 dan SIR 20VK. Informasi tersebut tercatat dalam profil resmi Kirana Megatara.

SIR merupakan salah satu standar mutu karet alam olahan Indonesia yang digunakan dalam perdagangan industri.

Dengan proses tersebut, PT Nusira menjadi bagian dari rantai industri yang menghubungkan karet dari petani dan pedagang dengan industri pengguna karet, termasuk pasar ekspor.

Mengandalkan Bahan Baku dari Petani dan Pedagang

Bahan baku PT Nusira berasal dari jaringan pemasok karet di sejumlah wilayah Sumatera.

Kirana Megatara mencatat Nusira memperoleh bahan baku dari pedagang dan petani karet di wilayah Aceh, Langkat, Deli Serdang, Nias, Lampung dan Palembang.

Pola tersebut memperlihatkan hubungan antara pabrik pengolahan dengan sektor perkebunan rakyat.

Karet yang dihasilkan petani kemudian masuk ke jaringan perdagangan sebelum diproses menjadi produk karet remah yang memiliki standar mutu untuk kebutuhan industri.

Bagian dari Industri Karet Sumatera Utara

Keberadaan PT Nusira tidak dapat dilepaskan dari perkembangan industri karet Sumatera Utara.

Provinsi tersebut sejak lama menjadi salah satu wilayah penting dalam produksi dan perdagangan karet alam Indonesia. Keberadaan berbagai pabrik crumb rubber di sekitar Medan membantu menghubungkan produksi perkebunan dengan pasar industri.

Direktori Departemen Pertanian juga mencatat PT Nusira (SAD) sebagai salah satu fasilitas pengolahan hasil perkebunan di Sumatera Utara, dengan produk crumb rubber dan kapasitas yang tercatat sekitar 24.000 ton per tahun dalam direktori tersebut.

Angka kapasitas tersebut merupakan data dari direktori pada periode tertentu sehingga tidak dapat dianggap sebagai kapasitas produksi terkini.

Masuk ke Kirana Megatara Group

Babak penting dalam sejarah PT Nusira terjadi ketika perusahaan menjadi bagian dari Kirana Megatara Group.

Kirana Megatara sendiri didirikan pada 1991 sebagai perusahaan induk. Grup tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok usaha pengolahan karet remah di Indonesia dengan sejumlah pabrik yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.

Dalam laporan keuangan konsolidasian Kirana Megatara, PT Nusira tercatat sebagai entitas anak dengan kepemilikan 100 persen. Dokumen tersebut juga mengklasifikasikan Nusira sebagai pabrik crumb rubber di Sumatera Utara.

Dengan masuknya Nusira ke dalam grup tersebut, perusahaan menjadi bagian dari jaringan industri karet yang memiliki sejumlah fasilitas pengolahan di berbagai daerah.

Produksi untuk Pasar Karet Dunia

Kirana Megatara menyebut kelompok usahanya memproduksi karet jenis SIR-10, SIR-20 dan SIR-20 CV, yang sebagian besar produknya diekspor kepada perusahaan ban global dan pedagang internasional.

Dalam konteks tersebut, PT Nusira menjadi salah satu mata rantai produksi karet remah yang berorientasi pada pasar industri.

Karet remah merupakan bahan baku penting bagi industri ban dan berbagai produk berbasis karet. Karena itu, kualitas bahan baku, proses pengolahan dan konsistensi mutu menjadi faktor penting dalam kegiatan pabrik.

Tetap Menjadi Bagian dari Jaringan Pabrik Karet

Data perusahaan menunjukkan PT Nusira tetap tercatat sebagai salah satu unit bisnis pengolahan karet remah dalam jaringan Kirana Megatara.

Profil resmi perusahaan menyebut Nusira memproduksi SIR 10, SIR 20 dan SIR 20VK, sementara bahan bakunya berasal dari jaringan petani dan pedagang di sejumlah wilayah Sumatera.

Posisi tersebut membuat PT Nusira memiliki keterkaitan dengan sektor perkebunan rakyat, perdagangan karet dan industri pengolahan.

Jejak Lebih dari Lima Dekade

Jika menggunakan catatan pendirian dalam penelitian akademik, perjalanan PT Nusira bermula pada 1969. Sementara jika menggunakan catatan operasional Kirana Megatara, pabrik Nusira mulai beroperasi pada 1983. Kedua informasi tersebut sama-sama penting untuk memahami perjalanan perusahaan secara lebih hati-hati.

Rangkaian sejarahnya dapat diringkas dengan catatan bahwa 1969 merupakan tahun pendirian berdasarkan penelitian akademik, 1970 merupakan tahun dimulainya produksi SIR 20 menurut sumber akademik, sedangkan 1983 merupakan tahun mulai operasi yang digunakan dalam catatan Kirana Megatara.

Pada perkembangan berikutnya, Nusira memproduksi SIR 10, SIR 20 dan SIR 20VK serta memperoleh bahan baku dari petani dan pedagang di berbagai wilayah. Perusahaan juga tercatat sebagai anak perusahaan dengan kepemilikan 100 persen dalam laporan konsolidasian Kirana Megatara.

Warisan dalam Industri Karet Indonesia

Sejarah PT Nusira memperlihatkan bagaimana industri pengolahan karet di Sumatera Utara berkembang dari hubungan antara perkebunan rakyat, pedagang bahan baku dan pabrik pengolahan.

Dari perusahaan yang menurut sumber akademik didirikan pada 1969, Nusira berkembang menjadi pabrik crumb rubber yang memproduksi berbagai jenis SIR dan terhubung dengan jaringan bahan baku dari sejumlah daerah di Sumatera.

Kehadirannya di Timbang Deli, Medan juga menempatkan PT Nusira dalam sejarah kawasan industri pengolahan karet di Sumatera Utara. Dalam struktur korporasi modern, perusahaan tercatat sebagai bagian dari jaringan pengolahan karet Kirana Megatara Group.

Dengan demikian, PT Nusira bukan sekadar nama sebuah pabrik karet. Perjalanannya mencerminkan perubahan industri karet Indonesia dari produksi dan perdagangan berbasis daerah menuju industri pengolahan yang terintegrasi dengan jaringan pasar nasional dan internasional.