Malang, Tandaglobal.news — Hamparan perkebunan teh di lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, menyimpan sejarah panjang yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Di kawasan tersebut berdiri Pabrik Teh Wonosari yang hingga kini masih berperan dalam kegiatan produksi teh sekaligus berkembang menjadi kawasan agrowisata.
Pabrik Teh Wonosari berada di kawasan Kebun Wonosari, Dusun Wonosari, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejarah perkebunannya bermula pada 1875 ketika NV. Cultur Maatschappy mulai merintis pengelolaan kawasan tersebut.
Pada masa awal, kawasan Wonosari belum menjadi perkebunan teh. Lahan tersebut lebih dahulu dikembangkan untuk komoditas kopi dan kina sebelum akhirnya beralih ke tanaman teh.
Memasuki awal abad ke-20, sekitar 1910, budidaya teh mulai dikembangkan di kawasan Wonosari. Kondisi alam di lereng Gunung Arjuno yang berada di dataran tinggi dinilai sangat mendukung pertumbuhan tanaman teh sehingga komoditas ini kemudian menjadi andalan perkebunan.
Berdasarkan riwayat yang dikutip PT Perkebunan Nusantara I Regional 5, pabrik pengolahan teh mulai didirikan pada 1912. Karena itu, sejarah Kebun Wonosari dan Pabrik Teh Wonosari memiliki tonggak waktu yang berbeda.
Tahun 1875 menjadi awal perintisan perkebunan, sedangkan 1912 merupakan penanda berdirinya fasilitas pengolahan teh yang kemudian menjadi pusat produksi di kawasan tersebut.
Sempat Berubah pada Masa Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, pengelolaan perkebunan mengalami perubahan.
Sejumlah sumber sejarah perkebunan menyebut lahan Wonosari dialihkan untuk tanaman pangan, termasuk singkong dan berbagai jenis umbi-umbian. Kondisi tersebut membuat budidaya teh tidak berjalan seperti pada masa sebelumnya.
Setelah Indonesia merdeka, perkebunan dan pabrik teh diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Pengelolaannya kemudian masuk ke dalam sistem perkebunan negara dan mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan.
Pada 1950, pengembangan tanaman teh kembali dilakukan. Sejak saat itu, Kebun Wonosari terus berkembang mengikuti perubahan pengelolaan perusahaan perkebunan negara.
Berganti Pengelola
Pasca nasionalisasi, pengelolaan Kebun Wonosari beberapa kali berpindah badan usaha. Salah satu fase penting terjadi ketika kawasan tersebut berada di bawah PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).
Pada masa itu, Wonosari tidak hanya berfungsi sebagai kawasan budidaya teh, tetapi juga menjadi pusat pengolahan teh hitam. Pabrik mengolah pucuk teh hasil panen menjadi produk siap dipasarkan.
Dalam perkembangannya, pengolahan teh dilakukan menggunakan metode Crushing, Tearing, Curling atau CTC. Teknik tersebut melalui proses penghancuran, perobekan, dan penggulungan daun teh sebelum memasuki tahapan berikutnya.
Produksi dilanjutkan melalui proses penerimaan pucuk teh, pelayuan, pengayakan, penggilingan, fermentasi atau oksidasi enzimatis, pengeringan, sortasi, hingga pengemasan. Seluruh tahapan diawasi untuk menjaga mutu produk yang dihasilkan.
Tetap Berproduksi di Era Modern
Pabrik Teh Wonosari tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi hingga kini masih berkaitan dengan kegiatan produksi teh.
Kajian pengolahan teh pada 2025 mencatat pabrik tersebut masih memproduksi teh hitam CTC dengan menerapkan sistem pengawasan mutu dan sanitasi dalam proses produksinya.
Kebun Wonosari berada pada ketinggian sekitar 950 hingga 1.450 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung kualitas tanaman teh di kawasan ini.
Berkembang Menjadi Agrowisata
Selain mempertahankan kegiatan perkebunan dan produksi teh, kawasan Wonosari juga berkembang sebagai destinasi agrowisata.
Pengunjung dapat menikmati hamparan kebun teh sekaligus mengenal proses budidaya dan pengolahan teh. Pengelola juga menyediakan wisata edukasi berupa tur kebun dan kunjungan ke pabrik pengolahan.
Keberadaan agrowisata membuat sejarah industri teh di Wonosari semakin dikenal masyarakat sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai perkembangan perkebunan teh di Indonesia.
Kini Masuk PTPN I Regional 5
Perubahan pengelolaan kembali terjadi setelah restrukturisasi perusahaan perkebunan negara. Kebun Wonosari yang sebelumnya berada di bawah PTPN XII kini menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara I Regional 5.
Restrukturisasi tersebut merupakan bagian dari penggabungan sejumlah entitas perkebunan negara. Kebun Wonosari tetap menjadi salah satu unit yang berfokus pada komoditas teh.
Perjalanan Wonosari pun telah melewati berbagai zaman, mulai dari perintisan perkebunan pada 1875, berkembangnya budidaya teh sekitar 1910, berdirinya pabrik pada 1912, melewati masa pendudukan Jepang, nasionalisasi, hingga menjadi bagian dari perusahaan perkebunan negara modern.
Lebih dari satu abad kemudian, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan di lereng Gunung Arjuno. Pabrik dan Kebun Wonosari menjadi saksi perkembangan industri teh di Malang serta menunjukkan bagaimana warisan perkebunan era kolonial tetap bertahan melalui kegiatan produksi, penerapan teknologi pengolahan, dan pengembangan sektor wisata berbasis perkebunan.




















Tinggalkan Balasan