Jakarta, Tandaglobal.news — PT PP London Sumatra Indonesia Tbk atau Lonsum merupakan salah satu perusahaan perkebunan tertua yang beroperasi di Indonesia. Sejarah perusahaan ini bermula pada 1906, ketika Harrisons & Crosfield Plc, perusahaan perdagangan dan jasa pengelolaan perkebunan asal London, Inggris, memulai perkebunan pertamanya di sekitar Medan, Sumatera Utara.
Dalam perjalanan lebih dari satu abad, Lonsum mengalami berbagai perubahan, mulai dari komoditas yang dikembangkan, perluasan wilayah perkebunan, restrukturisasi perusahaan, pencatatan saham di bursa hingga perubahan struktur kepemilikan. Perusahaan tersebut kemudian menjadi bagian dari Grup Indofood.
Saat ini, kegiatan utama Lonsum mencakup pemuliaan tanaman, penanaman, pemanenan, pengolahan dan penjualan produk kelapa sawit, karet, benih kelapa sawit, kakao dan teh.
Berawal dari Perusahaan Perkebunan Inggris
Sejarah Lonsum tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perusahaan perkebunan asing di Indonesia pada awal abad ke-20.
Pada 1906, Harrisons & Crosfield Plc, perusahaan yang berbasis di London, Inggris, mulai membangun kegiatan perkebunan di Indonesia. Perkebunan pertama perusahaan berada di sekitar Medan, Sumatera Utara.
Dari kegiatan tersebut kemudian berkembang jaringan perkebunan yang dikenal dengan nama London-Sumatra atau Lonsum.
Pada masa awal, komoditas yang dikembangkan cukup beragam. Karet, teh dan kakao menjadi bagian penting dari kegiatan perusahaan.
Diversifikasi tersebut mencerminkan karakter industri perkebunan pada masa awal ketika perusahaan mengembangkan berbagai tanaman komersial untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Karet Menjadi Komoditas Penting
Dalam perjalanan awalnya, karet menjadi salah satu komoditas utama Lonsum.
Perusahaan kemudian mengembangkan kegiatan perkebunan karet di berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan tersebut tidak hanya mencakup penanaman, tetapi juga pengolahan hasil perkebunan sebelum dipasarkan.
Sejarah Lonsum menunjukkan bahwa pada periode awal perusahaan lebih banyak mengandalkan komoditas perkebunan seperti karet, teh dan kakao.
Seiring perubahan industri dan perkembangan pasar, komposisi komoditas perusahaan kemudian berubah secara bertahap.
Mulai Mengembangkan Kelapa Sawit
Perubahan besar terjadi ketika Lonsum mulai mengembangkan kelapa sawit pada dekade 1980-an.
Menurut catatan resmi perusahaan, sejak mulai dikembangkan pada 1980-an, kelapa sawit terus mengalami peningkatan peran hingga akhirnya menjadi komoditas utama sekaligus salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan Lonsum.
Peralihan tersebut menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan. Lonsum yang sebelumnya dikenal dengan komoditas karet, teh dan kakao kemudian semakin berorientasi pada industri kelapa sawit.
Kelapa sawit juga mendorong perkembangan kegiatan hilir perusahaan melalui pengolahan tandan buah segar menjadi produk seperti crude palm oil atau CPO dan produk turunannya.
Memperluas Perkebunan ke Sumatera Selatan
Pada 1995, Lonsum memperluas pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet ke Sumatera Selatan.
Perluasan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam ekspansi geografis perusahaan. Sumatera Selatan kemudian menjadi salah satu wilayah penting dalam jaringan perkebunan Lonsum.
Ekspansi tersebut menunjukkan perubahan skala usaha perusahaan yang tidak lagi hanya bertumpu pada kawasan perkebunan lama di Sumatera Utara.
Lonsum mulai memperluas basis produksinya ke wilayah lain di Indonesia.
Masuk Bursa pada 1996
Tonggak besar berikutnya terjadi pada 1996, ketika Lonsum menjadi perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di bursa.
Catatan perusahaan menyebut Lonsum mencatatkan saham di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya, yang kemudian menjadi bagian dari Bursa Efek Indonesia.
Dalam sejarah perusahaan, Lonsum juga mencatatkan penawaran umum perdana sebanyak 38,8 juta saham dengan nilai nominal Rp500 per saham.
Status sebagai perusahaan terbuka membuat Lonsum memasuki fase baru dengan tuntutan tata kelola, keterbukaan informasi dan pertanggungjawaban kepada pemegang saham publik.
Di pasar modal Indonesia, Lonsum kemudian dikenal dengan kode saham LSIP.
Menghadapi Restrukturisasi Utang
Perjalanan perusahaan tidak selalu berlangsung mulus.
Pada 2004, Lonsum menyelesaikan proses restrukturisasi utang.
Menurut catatan sejarah perusahaan, restrukturisasi tersebut menghasilkan posisi neraca dan likuiditas yang lebih kuat. Kondisi tersebut kemudian memungkinkan perusahaan kembali memusatkan perhatian pada peningkatan kegiatan operasional.
Tahap ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan korporasi Lonsum karena perusahaan harus memperbaiki kondisi keuangannya sebelum memasuki periode ekspansi berikutnya.
Masuk Grup Indofood
Perubahan kepemilikan terbesar terjadi pada 2007.
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan Indofood Agri Resources Ltd. (IndoAgri) mengambil alih sekitar 64,4 persen saham Lonsum.
Setelah transaksi tersebut, Lonsum menjadi bagian dari kelompok agribisnis Grup Indofood.
Akuisisi tersebut menjadi babak baru dalam sejarah perusahaan. Lonsum kemudian menjalankan sinergi dengan perusahaan-perusahaan lain yang berada dalam Grup Indofood, terutama dalam bidang agribisnis dan perkebunan.
Dalam perkembangan kepemilikan berikutnya, struktur saham Lonsum mengalami perubahan.
Laporan keberlanjutan perusahaan tahun 2025 mencatat PT Salim Ivomas Pratama Tbk memiliki 59,51 persen saham, IndoAgri 0,11 persen, sedangkan 40,38 persen dimiliki publik dengan masing-masing kepemilikan di bawah 5 persen.
Memasuki Era Perkebunan Berkelanjutan
Setelah masuk Grup Indofood, Lonsum juga semakin mengembangkan sistem pengelolaan perkebunan dengan memperhatikan standar keberlanjutan.
Salah satu tonggaknya adalah penerapan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil atau RSPO dan Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO.
Pada 2009, seluruh perkebunan dan pabrik Lonsum di Sumatera Utara memperoleh sertifikasi RSPO dengan produksi CPO bersertifikat sekitar 170.000 ton per tahun.
Sertifikasi kemudian diperluas ke wilayah lain.
Pada 2011, sertifikasi RSPO di Sumatera Selatan menambah produksi CPO bersertifikat menjadi sekitar 195.000 ton per tahun.
Sementara itu, pada 2013 hingga 2017, cakupan sertifikasi ISPO juga terus bertambah.
Perkembangan tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian perusahaan terhadap standar pengelolaan perkebunan, lingkungan dan rantai produksi kelapa sawit.
Perubahan Teknologi dan Sistem Manajemen
Modernisasi juga menjadi bagian dari perjalanan Lonsum.
Pada 2012, perusahaan melakukan big bang go-live SAP, yang menandai penerapan sistem teknologi informasi secara lebih terintegrasi.
Sistem tersebut kemudian mendukung pengelolaan kegiatan perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah.
Lonsum juga mengembangkan kegiatan penelitian dan pengembangan tanaman, terutama dalam bidang benih kelapa sawit.
Perusahaan menyebut memiliki program pemuliaan tanaman yang menghasilkan material benih kelapa sawit dengan karakteristik produktivitas dan kemampuan adaptasi tertentu.
Kegiatan penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus menyediakan bahan tanam berkualitas.
Tidak Hanya Kelapa Sawit
Meskipun kelapa sawit telah menjadi komoditas utama, Lonsum tetap menjalankan kegiatan pada beberapa komoditas lainnya.
Kegiatan perusahaan saat ini mencakup kelapa sawit dan produk sawit, karet, benih kelapa sawit, kakao serta teh.
Kegiatan tersebut mencakup seluruh rangkaian usaha perkebunan, mulai dari pemuliaan tanaman, penanaman, pemanenan, pengolahan hingga penjualan hasil perkebunan.
Dengan demikian, sejarah Lonsum bukan hanya sejarah perusahaan kelapa sawit, tetapi juga bagian dari perkembangan industri perkebunan Indonesia yang sebelumnya sangat berkaitan dengan karet, teh dan kakao.
Jejak Perkebunan yang Menyebar di Indonesia
Dalam perkembangannya, kegiatan Lonsum tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Catatan perusahaan menyebut kegiatan perkebunannya mencakup wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, dengan komoditas utama kelapa sawit dan karet serta sejumlah komoditas perkebunan lainnya.
Persebaran tersebut membuat Lonsum memiliki jaringan perkebunan yang luas dan melibatkan banyak tenaga kerja serta masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Lebih dari Satu Abad
Jika ditarik dari awal kegiatan perkebunan pada 1906 hingga sekarang, perjalanan Lonsum telah berlangsung lebih dari 120 tahun.
Dalam rentang tersebut, sejumlah tonggak penting membentuk perjalanan perusahaan.
1906 menjadi awal kegiatan perkebunan Harrisons & Crosfield di sekitar Medan.
1980-an menjadi periode ketika Lonsum mulai mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang kemudian berkembang menjadi komoditas utama.
Pada 1995, pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet diperluas ke Sumatera Selatan.
Setahun kemudian, pada 1996, Lonsum menjadi perusahaan publik dan tercatat di bursa Indonesia.
Pada 2004, perusahaan menyelesaikan restrukturisasi utang.
Kemudian pada 2007, SIMP dan IndoAgri mengambil alih saham mayoritas sehingga Lonsum masuk ke dalam Grup Indofood.
Pada periode 2009 hingga 2021, sertifikasi RSPO dan ISPO diperluas secara bertahap hingga produksi CPO inti Lonsum mencapai 100 persen bersertifikasi ISPO pada 2021.
Lonsum Saat Ini
Kini, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk tetap menjalankan kegiatan sebagai perusahaan perkebunan dengan kelapa sawit sebagai komoditas utama.
Perusahaan juga mempertahankan kegiatan pada karet, benih kelapa sawit, kakao dan teh.
Lonsum tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dengan kode saham LSIP dan berada dalam ekosistem agribisnis Grup Indofood melalui kepemilikan mayoritas PT Salim Ivomas Pratama Tbk.
Sejarah panjang Lonsum memperlihatkan perubahan wajah industri perkebunan Indonesia, mulai dari masa awal perkebunan, perkembangan komoditas karet dan teh, pergeseran menuju kelapa sawit, transformasi menjadi perusahaan publik hingga masuknya perusahaan ke dalam kelompok agribisnis besar nasional.
Lebih dari satu abad setelah kegiatan pertamanya dimulai di sekitar Medan, Lonsum masih menjadi salah satu nama penting dalam sejarah industri perkebunan Indonesia.
Perjalanan tersebut menjadikan Lonsum bukan hanya sebuah perusahaan perkebunan, tetapi juga bagian dari perubahan panjang industri agribisnis Indonesia.




















Tinggalkan Balasan