Kisaran, Tandaglobal.news PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (BSP) merupakan salah satu perusahaan perkebunan dengan sejarah panjang di Indonesia. Akar perusahaan ini bermula pada 17 Mei 1911 di Kisaran, Sumatera Utara, ketika didirikan dengan nama Naamlooze Vennootschap Hollandsch Amerikaansche Plantage Maatschappij (NV HAPM). Sejak awal, perusahaan berkaitan dengan kegiatan perkebunan dan pengolahan karet alam.

Lebih dari satu abad kemudian, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk berkembang menjadi perusahaan agribisnis terintegrasi yang menjalankan bisnis perkebunan kelapa sawit dan karet, pengolahan minyak sawit beserta turunannya, pengolahan karet alam, hingga oleokimia.

Meski kegiatan usahanya telah berkembang ke berbagai wilayah Indonesia, Kisaran, Kabupaten Asahan tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perusahaan.

Awal Berdiri pada 1911

Sejarah BSP dimulai pada 17 Mei 1911 melalui pendirian NV Hollandsch Amerikaansche Plantage Maatschappij. Dokumen perusahaan mencatat pendirian tersebut sebagai awal perjalanan korporasi yang kemudian berkembang menjadi BSP.

Pendirian perusahaan disebut disahkan melalui Koninklijke Besluit No. 91 tanggal 14 Juni 1911. Pada masa awal, kegiatan perusahaan berpusat pada perkebunan di sekitar Kisaran dengan karet alam sebagai komoditas penting.

Kehadiran perkebunan tersebut berlangsung ketika Sumatera Timur berkembang sebagai salah satu kawasan perkebunan utama di Hindia Belanda. Komoditas karet kemudian menjadi bagian penting yang membentuk identitas awal perusahaan.

Fasilitas Perkebunan Mulai Berkembang

Perkembangan perusahaan pada masa awal tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan areal perkebunan. Berbagai fasilitas pendukung juga mulai dibangun untuk menunjang kegiatan produksi dan kehidupan pekerja.

Salah satunya adalah Bunut Factory, yang memiliki keterkaitan dengan fasilitas penelitian tanaman dan penyakit yang dibentuk perusahaan pada 1917. Fasilitas penelitian tersebut kemudian berkembang dan berkaitan dengan kegiatan pengolahan hasil perkebunan.

Perusahaan juga membangun fasilitas kesehatan. Chatarina Hospital di Tanah Radja Estate didirikan pada 1914 untuk mendukung kebutuhan kesehatan di lingkungan perkebunan. Setelah perusahaan berada di bawah pengelolaan pemerintah Indonesia, fasilitas tersebut kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit Ibu Kartini.

Keberadaan fasilitas produksi, penelitian, kesehatan, perumahan dan infrastruktur lainnya menunjukkan bahwa kawasan perkebunan berkembang bukan hanya sebagai pusat ekonomi, tetapi juga menjadi lingkungan sosial bagi para pekerja dan masyarakat sekitar.

Perubahan Kepemilikan pada 1957

Perubahan penting terjadi pada 1957 ketika perusahaan diakuisisi oleh Uniroyal Inc. dari Amerika Serikat.

Setelah pengambilalihan tersebut, nama perusahaan berubah menjadi PT United States Rubber Sumatra Plantations (USRSP). Perubahan tersebut menandai masuknya perusahaan ke dalam fase pengelolaan baru sekaligus semakin eratnya keterkaitan usaha dengan industri karet internasional.

Pada periode ini, karet tetap menjadi fondasi utama kegiatan perkebunan. Perusahaan berkembang dalam lingkungan industri karet yang semakin terhubung dengan kebutuhan pasar dunia.

Nasionalisasi pada 1965–1967

Perjalanan perusahaan kembali mengalami perubahan ketika pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi terhadap USRSP.

Menurut kronologi resmi perusahaan, proses nasionalisasi berlangsung pada 1965 hingga 1967. Perusahaan yang sebelumnya berada di bawah kepemilikan asing kemudian masuk ke dalam pengelolaan pemerintah Indonesia.

Nasionalisasi menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan perusahaan karena menandai berakhirnya fase pengelolaan oleh Uniroyal dan dimulainya periode baru dalam pengelolaan perusahaan di Indonesia.

Masuknya Bakrie & Brothers

Setelah berada dalam pengelolaan Indonesia, perusahaan kembali mengalami perubahan nama.

Pada 1985, perusahaan menggunakan nama PT Uniroyal Sumatra Plantations. Setahun kemudian, pada 1986, PT Bakrie & Brothers mengambil alih 75 persen saham perusahaan.

Setelah pengambilalihan tersebut, nama perusahaan berubah menjadi PT United Sumatera Plantations (UNSP).

Masuknya Bakrie & Brothers menjadi awal dari fase baru dalam perjalanan perusahaan. Dari perusahaan yang memiliki akar kuat pada perkebunan karet, BSP kemudian mulai mengembangkan bisnis dan melakukan diversifikasi.

Menjadi Perusahaan Terbuka

Babak penting lainnya terjadi pada 1990 ketika perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta.

Pada saat itu, saham perusahaan ditawarkan dengan nilai nominal Rp1.000 per saham. Status sebagai perusahaan terbuka membawa perubahan dalam struktur permodalan dan tata kelola perusahaan.

BSP kemudian melakukan sejumlah aksi korporasi untuk mendukung perkembangan bisnis. Pada 1997, perusahaan melakukan stock split dengan rasio 2:1.

Pada tahun yang sama, dalam penyesuaian terhadap ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, nama perusahaan menjadi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

Memasuki Bisnis Kelapa Sawit

Pada 1992, perusahaan secara resmi menggunakan nama PT Bakrie Sumatera Plantations (BSP) sekaligus mulai memasuki bisnis kelapa sawit.

Langkah tersebut menjadi salah satu perubahan strategis terbesar dalam perjalanan perusahaan. Jika sebelumnya karet menjadi fondasi utama bisnis, masuknya kelapa sawit membuat portofolio usaha BSP semakin beragam.

Pengembangan tersebut kemudian dilakukan melalui pembangunan perkebunan kelapa sawit, fasilitas pengolahan minyak sawit, serta berbagai investasi dan akuisisi di sektor perkebunan.

Ekspansi pada Era 2000-an

Memasuki dekade 2000-an, BSP memperkuat sistem manajemen sekaligus memperluas skala usahanya.

Pada 2003, unit Sumatera Utara memperoleh sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu. Dua tahun kemudian, pada 2005, perusahaan memperoleh sertifikasi ISO 14001 untuk sistem manajemen lingkungan.

Perusahaan juga melakukan ekspansi melalui sejumlah aksi korporasi.

Pada 2004, BSP mengakuisisi PT Huma Indah Mekar di Lampung dan membangun pabrik minyak sawit melalui PT Agro Mitra Madani.

Pada 2005, perusahaan melakukan divestasi PT Kilang Vecolina di Karawang, membentuk corporate center dan mengakuisisi PT Air Muring.

Ekspansi semakin besar pada 2007. BSP mengakuisisi sejumlah perusahaan, antara lain PT Sumbertama Nusapertiwi, PT Nibung Arthamulia, PT Grahadura Leidongprima, PT Guntung Indamannusa, serta Agri Resources BV.

Pada periode yang sama, perusahaan juga mengembangkan proyek perkebunan baru di Kalimantan Tengah dan meresmikan seed garden di Kisaran.

Rangkaian akuisisi tersebut membuat skala bisnis BSP berkembang jauh melampaui basis awalnya sebagai perusahaan perkebunan karet di Kisaran.

Mengembangkan Benih Kelapa Sawit

Pengembangan bisnis kelapa sawit tidak hanya dilakukan melalui perluasan perkebunan.

Pada 2008, BSP bersama mitranya, ASD Costa Rica, membentuk PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia. Perusahaan tersebut diarahkan untuk menjalankan penelitian, pemuliaan tanaman, produksi dan pemasaran benih kelapa sawit.

Pengembangan benih menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendukung produktivitas perkebunan dan menghasilkan varietas yang sesuai dengan kondisi lokal.

Memasuki Bisnis Oleokimia

Pada 2010, BSP memperluas kegiatan usaha ke sektor oleokimia.

Langkah tersebut memperkuat perubahan BSP dari perusahaan perkebunan menjadi perusahaan agribisnis yang semakin terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Melalui bisnis oleokimia, hasil perkebunan, khususnya kelapa sawit, dapat diolah lebih lanjut menjadi produk industri bernilai tambah.

Pada tahun yang sama, perusahaan juga memperluas usaha di sektor sawit dan karet serta melanjutkan kerja sama pengembangan benih dengan ASD Costa Rica.

BSP juga memperoleh sertifikasi RSPO untuk unit kerja Kisaran.

Satu Abad Perjalanan

Tahun 2011 menjadi tonggak penting karena menandai 100 tahun perjalanan perusahaan sejak pendiriannya pada 1911.

Selama satu abad, BSP telah melewati berbagai fase sejarah. Perusahaan berawal dari perkebunan karet pada masa kolonial, mengalami perubahan kepemilikan, nasionalisasi, pengelolaan pemerintah, masuknya Bakrie & Brothers, menjadi perusahaan publik, hingga berkembang menjadi perusahaan agribisnis terintegrasi.

Usia tersebut menempatkan BSP sebagai salah satu perusahaan perkebunan dengan sejarah korporasi panjang di Indonesia.

Dari Karet Menuju Agribisnis Terintegrasi

Perubahan besar dalam perjalanan BSP terlihat dari diversifikasi bisnisnya.

Saat ini, kegiatan usaha perusahaan mencakup perkebunan kelapa sawit dan produksi minyak sawit beserta turunannya, perkebunan dan pengolahan karet alam beserta turunannya, serta pengolahan oleokimia.

Perusahaan menyebut model bisnisnya sebagai sustainable integrated agro-business, yang mencakup kegiatan hulu berupa perkebunan dan kegiatan hilir berupa pengolahan.

Dalam data operasional yang dipublikasikan perusahaan, BSP mengoperasikan lima pabrik pengolahan kelapa sawit, tiga pabrik pengolahan karet alam dan satu fasilitas pengolahan oleokimia.

Karet Tetap Menjadi Bagian Penting

Meski kelapa sawit berkembang menjadi salah satu bisnis utama, komoditas karet tetap menjadi bagian penting dari identitas BSP.

Perusahaan menyebut dirinya sebagai salah satu produsen karet alam tertua di Indonesia. Perkebunan karet di Kisaran juga telah melalui beberapa siklus penanaman kembali.

Menurut informasi perusahaan, tanaman karet umumnya diremajakan sekitar setiap 25 tahun. Perkebunan BSP disebut telah memasuki siklus tanam keempat.

Produk karet yang dihasilkan mencakup berbagai bentuk, mulai dari lateks hingga Block Skim Rubber (BSR). Perusahaan juga menyebut dirinya sebagai salah satu produsen lateks terbesar dan produsen cenex berkualitas di Indonesia.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa setelah lebih dari satu abad, komoditas karet masih memiliki hubungan erat dengan identitas perusahaan.

Memperkuat Prinsip Keberlanjutan

Perubahan tuntutan industri perkebunan membuat aspek lingkungan dan keberlanjutan semakin penting dalam pengelolaan perusahaan.

BSP menyatakan menerapkan prinsip People, Planet, Profit. Prinsip tersebut mencakup perhatian terhadap manfaat ekonomi, pengembangan masyarakat, pengurangan jejak ekologis, pengelolaan emisi dan limbah, serta penerapan prinsip zero burning.

Dalam perjalanan sertifikasinya, unit BSP di Sumatera Utara memperoleh sertifikasi RSPO pada 2010. Sejumlah unit lainnya kemudian memperoleh berbagai sertifikasi, termasuk RSPO dan ISPO.

Pada 2024, BSP juga menerbitkan laporan keberlanjutan yang menekankan kebutuhan perusahaan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim, dinamika pasar dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap praktik usaha berkelanjutan.

Strategi Perusahaan di Era Modern

Memasuki dekade 2020-an, BSP menghadapi lingkungan bisnis yang berbeda dibandingkan ketika perusahaan pertama kali berdiri.

Industri perkebunan tidak lagi hanya dituntut menghasilkan komoditas. Produktivitas, efisiensi, ketertelusuran, lingkungan, hubungan dengan masyarakat dan tata kelola juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan usaha.

BSP mempertahankan bisnis karet dan sawit sekaligus mengembangkan pengolahan produk bernilai tambah.

Data perusahaan mencatat BSP memiliki dan/atau mengelola perkebunan kelapa sawit dan karet dengan luas tanaman sekitar 67.591 hektare pada 2022. Pada periode yang sama, perusahaan mempekerjakan sekitar 7.412 orang.

Data tersebut menunjukkan skala BSP yang telah berkembang jauh dibandingkan bentuk awalnya sebagai perusahaan perkebunan karet di Kisaran pada 1911.

Jejak Sejarah yang Masih Terlihat di Kisaran

Walaupun kegiatan usaha BSP telah berkembang ke berbagai wilayah, Kisaran tetap memiliki posisi penting dalam sejarah perusahaan.

Kantor besar perusahaan berada di kawasan Kisaran, Kabupaten Asahan. Sejumlah bangunan lama milik BSP di wilayah tersebut juga telah tercatat dalam dokumentasi cagar budaya Kabupaten Asahan.

Salah satunya adalah Kantor Besar PT Bakrie Sumatera Plantations di Jalan Ir. Juanda, Kisaran Timur. Bangunan tersebut dicatat sebagai bangunan bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan perusahaan sejak 1911.

Keberadaan bangunan lama tersebut menjadi salah satu bukti fisik perjalanan panjang perusahaan sekaligus bagian dari sejarah perkembangan perkotaan dan perkebunan di Kisaran.

Bagian dari Sejarah Industri Perkebunan Sumatera Utara

Perjalanan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah panjang industri perkebunan Sumatera Utara.

Perusahaan yang lahir pada 1911 sebagai perkebunan karet di Kisaran telah melewati perubahan zaman dan struktur ekonomi yang besar. Perusahaan mengalami pergantian kepemilikan, nasionalisasi, perubahan nama, masuknya modal swasta nasional, menjadi perusahaan publik, melakukan ekspansi melalui akuisisi, serta melakukan diversifikasi ke kelapa sawit dan oleokimia.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, karet tetap menjadi bagian penting dari identitas perusahaan.

Dari perkebunan karet di Kisaran lebih dari satu abad lalu, BSP kini berkembang menjadi perusahaan agribisnis terintegrasi dengan kegiatan perkebunan dan pengolahan karet, sawit serta oleokimia.